dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Sehari Sebelum Pernikahan Laura

 bourne”Ya, pesawatnya baru saja tiba. Iya, sudah tiga kali kupastikan bahwa aku tidak salah. Tenanglah, apa kau tidak punya hal lain untuk dikhawatirkan?”

Aku menahan diri selama semenit untuk mendengarkan omelan Laura. Persiapan menikah sepertinya tidak membuatnya kehilangan nafsu untuk mendikte orang lain. Mungkin malah menguatkannya. Aku hampir kasihan pada Mayza, calon suaminya.

”Aku membawa kertas bertulis namanya. Sekiranyapun ia tidak menemukanku, atau aku tidak menemukannya,” cepat kuralat kalimatku, ”Aku sudah menitip pesan agar ia dipanggil lewat mikrofon bandara. Kau puas?”

”Ah Mila, aku puas sekali. Kabari aku secepatnya. Kau mengerti?”

Kututup telpon dengan rasa tidak puas sama sekali. Kantukku sama sekali belum hilang. Laura meneleponku sejam yang lalu, meminta agar aku menggantikan sopirnya yang tiba-tiba diare berat.

”Kau hanya akan menjemput Lana. Aku sudah berjanji bahwa akan ada yang menjemputnya. Aku tidak ingin ia kecewa.”

”Kupikir kauingin aku menjemput bunga hari ini.” aku bicara dari balik selimut.

”Kau bisa sekalian menjemput bunga.” lalu hening sampai setengah menit. ”Please…”

Perutku berbunyi. Aku hanya sempat sarapan sehelai roti tadi pagi. Serta setengah gelas teh. Aku berdoa agar orang yang sedang kujemput ini membawa makanan.

Aku terkikik sendiri. Bagaimana bisa aku berharap demikian.

Gerbang kedatangan sudah terbuka. Barisan wajah-wajah letih mulai mengalir. Aku menebar pandangan, mencari-cari sosok yang kira-kira akan kujemput.

Kemudian aku tersadar bahwa kertas yang kupegang belum kutulis sama sekali. Sial. Kucari spidol dari dalam tas. Oh. Benar-benar sial. Tidak ada apapun yang bisa kupakai untuk menulis. Tanpa bisa kutahan aku mengikik lagi, ini bahkan sama sekali bukan tasku. Aku membawa tas Rindu. Ia menginap di kamarku kemarin, ia pasti meninggalkan tasnya.

Aku menemukan lipstik.

Tidak ada rotan akarpun jadi.

LANA.

Aku mengangkat kertas itu setinggi dagu. Berusaha menyeruak ke barisan depan para penjemput yang satu demi satu sudah bertemu dengan orang yang mereka jemput. Mengapa mereka tidak berpelukan di luar saja? Aku mengeluh dalam hati.

Aku kembali menebar pandangan, mencari seseorang yang besar kemungkinan juga akan berwajah bingung sepertiku. Itu bukan. Yang di sana juga bukan. Tentu saja yang itu juga bukan. Ia baru saja memeluk gerombolan gadis yang menjemputnya.

Aku membuang nafas. Perutku mulai perih.

Sial. Sial. Sial.

Kemudian aku melihatnya.

Kurasa ia yang lebih dulu melihatku.

Kautahu kalau seseorang sedang melihatmu, atau sekedar memandang, keduanya seperti sama tapi kenyataannya sangatlah berbeda. Kaubisa merasakan bahwa mereka berharap kau juga menatapnya.

Aku berusaha tersenyum. Kuharap aku bisa mengingat orang ini agar tidak jadi salah paham.

”Kau yang menjemputku?”

Tentu saja itu bukan pertanyaan yang siap untuk aku jawab. Aku membalik kertas yang kupegang, berusaha memastikan aku tidak menulis sesuatu yang salah di sana.

Kupaksakan untuk tersenyum. ”Kau… Lana?”

Pria itu tersenyum, mengulurkan tangan. ”Aku Alan. Laura biasa memanggilku Lana. Aku tidak tahu ia memiliki sopir perempuan.”

*****

”Apakah sudah hujan sejak pagi?”

Aku agak terkejut. ”Ya. Gerimis, terkadang hujan, lalu gerimis lagi. Sejak tadi malam.”

Radio memutar Come Away With Me. Aku berusaha mencari frekuensi lain.

”Kau tidak suka?”

”Hah?” aku tergagap.

”Kau tidak suka lagunya? Kenapa diganti?”

Aku mengembalikannya. ”Tidak. Aku hanya sedikit mengantuk. Lagu ini kadang bisa membuatmu mengantuk, menurutku begitu.” kupaksakan untuk tertawa. ”Laura meneleponku tadi pagi. Sopirnya sakit. Tidak ada yang bisa menjemputmu.”

”Oh. Aku minta maaf kalau begitu.”

Aku berpaling padanya. ”Tidak apa-apa.”

Jalanan macet parah. Aku mengeluh dalam hati. Perutku lapar sekali.

”Kau belum makan?”

Aku cepat berpaling. ”Apakah terdengar sekeras itu?”

Pria itu tertawa. Tuhan. Tawanya enak sekali, ia pasti sudah makan dengan kenyang sebelum terbang. Atau makan di atas pesawat. Disajikan oleh pramugari yang pasti menebar senyum manis mencoba menarik perhatiannya.

Aku mengutuk Laura yang tidak mengatakan bahwa aku akan menjemput seorang pria. Kuulangi. Aku mengutuk Laura yang tidak mengatakan bahwa aku akan menjemput seorang pria yang luar biasa menarik. Ia tampan sekali. Aduh. Aku bahkan tadi tidak sempat mandi.

Pria itu melirik jam tangannya. Kemudian melihat keluar jendela. ”Kau ingin membeli sesuatu? Kulihat ada yang menjual roti bakar di pinggir jalan.”

Aku menarik kedua tepi bibirku. ”Aku rasa nanti saja.”

”Tapi kita terjebak macet. Kita hanya bergerak dua meter sejak dua puluh menit lalu. Dan sekarang hujannya deras sekali.”

Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Perutku tanpa tahu malu berbunyi lebih keras.

Pria itu tertawa kecil. ”Ada payung di mobil ini? Aku akan membelikanmu makanan.”

*****

”Wow. Siapa dia?” mata Talia seperti meloncat keluar dari rongga kepalanya saat melihat Alan.

”Jaga sikapmu. Kau seperti akan memakannya.” lalu aku ikut mengintip dari balik kaca. ”Ah… dia tampan sekali.”

Talia mencubitku. ”Dan atas dasar apa kau berani mempermalukan dirimu dengan berpenampilan seperti ini? Tidak tahu malu.”

Aku mendelik padanya. ”Diam kau. Akan kulabrak Laura setelah ini. Ia yang bertanggungjawab.”

Aku menceritakan versi singkat semua yang telah terjadi. Talia menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Tapi kalau aku jadi kau, aku akan bersyukur sudah satu mobil dengan pria itu. Ah… apakah dia wangi?” ia kembali mengintip dari balik jendela.

”Kau bermaksud menyindirku?” aku balik mencubitnya. ”Cepatlah, aku harus mengambil bunga. Kau sudah menyiapkannya, kan?”

Talia mengikik pelan. ”Sudah, ayo kita ke belakang. Tapi bagaimana kau bisa membawanya? Lumayan banyak.”

”Apakah tidak apa jika kutaruh di belakang?”

”Tidak apa sih. Tapi kau harus hati-hati. Aku sudah menyusunnya dengan letih sampai larut malam.”

”Bukan hanya kau yang kurang tidur.” Aku kembali mencubitnya.

Terdengar bel dari pintu yang membuka. Tawa kami berdua sontak terhenti.

”Apakah ada yang bisa kubantu? Aku bosan menunggu di mobil.”

”Aah…” Talia memberesi rambutnya yang berantakan. ”Sudah kukatakan pada Mila agar kau ikut saja ke dalam tapi ia tidak mau mendengarkanku. Silakan duduk. Dan tidak ada yang perlu dibantu. Kau pasti lelah habis bepergian.”

Aku sampai ternganga. Apa-apaan ini? Kutarik lengan Talia. ”Kami hanya akan mengambil bunga. Kau duduk saja sebentar. Tidak akan lama.”

”Kau ingin minum sesuatu?” Talia tidak menyerah.

Alan menggeleng. Kemudian tersenyum.

Hal yang benar-benar salah. Talia tak berhenti membicarakan senyuman itu saat kami di belakang.

”Tak tahukah kau bisa saja ia mendengar kita dari depan? Jaga sikapmu.” Aku mendelik padanya.

”Ah kau ini. Aku tahu aku tidak akan mungkin mendapatkan pria setampan itu. Tapi paling tidak, aku lebih wangi daripada kau.” Talia mengikik pelan. Ia bergegas membawa bunga dalam dekapannya. ”Cepatlah. Aku ingin melihatnya lagi.”

Alan sedang menulis sesuatu saat kami keluar. Ia segera berdiri saat melihat kami. ”Selesai?”

”Lama ya? Maafkan. Mila tadi mematahkan beberapa batang bunga. Aku harus memperbaikinya lagi.”

”Hei…” aku mendelik padanya.

Alan justru tertawa. Aku hampir bisa melihat Talia meneteskan liur. ”Baiklah. Kami pergi dulu. Terimakasih.”

Alan membukakan pintu untukku. Aku memaksakan tersenyum.

Ia kemudian membuka payung dan mengangkatnya ke atas kepalaku. ”Ayo.” ia berjalan di sisiku.

Oh Tuhan. Aku berjanji akan selalu mandi pagi mulai hari ini.

*****

”Ya… aku sekarang bersamanya. Ya… sekarang kami menuju hotel. Jalanan macet. Kau mengertilah sedikit. Bungamu sudah kuambil. Ya… mereka masih segar. Oke. Oke. Akan kukabari segera. Sepuluh menit? Oh Laura. Akan kutelpon kau setelah aku sampai di hotel.”

Aku menutup telepon. ”Maaf. Aku tadi harus mengangkatnya. Sebenarnya aku bukan orang yang senang menelepon saat menyetir.” entah mengapa aku merasa harus menjelaskannya.

”Laura?”

”Ya.”

”Sepertinya dia tidak berubah.”

Aku melirik padanya. Alan merasakannya. Ia kemudian memandangku. ”Laura tidak bercerita padamu?”

”Cerita apa?”

Alan tertawa pelan. ”Ah, sudah kuduga.”

Aku mengernyitkan kening. Memusatkan pandangan pada jalanan yang mengabur di depanku. ”Aku tidak mengerti.”

”Aku baru mendapat kabar bahwa ia akan menikah seminggu yang lalu. Aku sama sekali tidak tahu bahwa ia akan menikah.”

Aku berusaha mencerna ceritanya. ”Aku masih tidak mengerti.”

”Ah… bagaimana aku bisa menjelaskannya. Aku dan Laura, kami adalah teman. Tapi, kami tidak pernah berkenalan. Maksudku, ini akan jadi pertama kalinya kami bertemu.”

Aku menginjak rem. ”Astaga. Maafkan aku.” Kubawa mobil menepi. ”Apa maksudmu?”

”Internet. Kami hanya berteman lewat internet.”

”Dan sama sekali tidak pernah bertemu?”

Alan menggeleng.

”Bertukar foto?”

Alan menggeleng perlahan. Ia menutup matanya. ”Oh. Baru kusadari kalau ini bisa buruk sekali.”

Aku menarik nafas. Tidak percaya hal seperti ini masih terjadi di atas muka bumi. Di zaman ini.

”Kau… umh… maksudku, Laura, tidak mempermasalahkan ini?”

”Kau tahu Laura.”

Aku tahu Laura. Ia tidak akan mempermasalahkan ini.

”Kami berkenalan setahun yang lalu. Aku melihat blog yang ia tulis. Mengomentarinya. Ia berkunjung balik. Lalu kami berteman. Bertukar akun. Sering mengobrol. Ia sahabat maya yang baik.”

”Kau tahu Laura?”

”Aku tahu Laura. Maksudku, sejauh yang ia ceritakan. Ia gadis yang manis. Aku bahkan sempat berpikir bahwa…” Alan tak meneruskan kalimatnya. Ia memberikanku ekspresi menyesal.

”Oh tidak. Jangan katakan kalau kau menyukainya?” aku menutup mulut.

Alan tertawa. Kali ini terdengar sedih. ”Luar biasa bukan?”

”Kenapa kau melakukan ini? Maksudku…” aku mengangkat tangan ke arahnya, seakan mengukur tubuhnya. ”Orang sepertimu sepertinya tidak akan kesulitan mencari gadis yang lebih nyata.”

*****

”Jadi… kau tampan. Baik hati. Muda. Pekerja keras. Pintar. Kaya-raya. Apa yang kulewatkan?”

Alan memberiku tatapan mencela.

”Semua gadis yang mengejarmu, tidak ada yang memikat hatimu?” Aku berusaha tak memedulikan tatapan itu.

Alan lalu memberi pandangan sinis. ”Kalau kau di posisiku, bagaimana perasaanmu melihat semua mengejarmu dengan harapan mereka bisa memiliki apa yang aku miliki?”

Aku mengernyit. ”Kau bereaksi terlalu berlebihan. Bisa saja ada yang mencintaimu dengan tulus.”

Alan kembali memberi tatapan agak menghina.

”Okay. Aku harus akui bahwa penampilan fisikmu saja sudah cukup untuk digilai. Aku tidak tahu seberapa kaya dirimu. Tapi andaikan kau cukup kaya, kau memang pantas untuk dikejar. Tapi sekali lagi, apa memang kau tidak menemukan orang yang pas untukmu? Kau sudah bertemu dengan semua gadis? Maksudku semua gadis.” Aku memberi penekanan pada kata ’semua’.

Alan tergelak. ”Mungkin kau orang pertama yang tidak memakai parfum saat bersamaku.”

Aku menganga. ”Sialan!”

Alan makin tergelak.

Aku menggelengkan kepala. Menahan senyum. ”Kau sudah sampai di hotel.”

Alan melirik keluar. ”Sepertinya menyenangkan. Baiklah. Sampai bertemu kembali. Kau akan menjemputku untuk acara nanti malam?”

Aku mengerjap-ngerjap.

”Aku ingin kau yang menjemputku. Paling tidak ada orang yang sudah kukenal.”

”Kau tidak akan kesulitan berkenalan.” sindirku.

Alan memicingkan mata, menegurku. Aku hanya tersenyum. ”Kau akan memberikan Laura kejutan terbesar sebelum pernikahannya.”

”Ia sudah memberikanku kejutan seminggu yang lalu.” Alan berdehem kecil, suaranya terdengar lebih serak tadi. Ia mengalihkan pembicaraan. ”Mengapa radio ini kembali memutar Norah Jones?”

Tawaku pecah. ”Kau tidak suka?”

”Tidak. Hanya membuatku sedikit mengantuk.”

”Hei…” aku mendorong bahunya.

Alan tersenyum. Ia membuka pintu. ”Terimakasih.”

*****

”Kau yakin tadi sudah menjemputnya?”

”Apa maksudmu?” Aku mendelik pada Laura, yakin bahwa ia hanya bermaksud menyindirku dengan pertanyaannya barusan. ”Aku sudah mengantarnya ke hotel.”

”Jadi mengapa ia belum datang?”

Mayza menjadi penolong karena ia datang menghampiri Laura, yang dengan segera merangkulnya dan menegur karena dasinya miring.

”Hai Mila.” Mayza menyapaku.

Aku tersenyum. Lalu berkata pada Laura. ”Kau punya nomor teleponnya?”

Laura memberiku tatapan mencemooh. ”Tentu saja. Aku hanya tidak sedang membawa handphoneku.” Ia berpaling pada Mayza. ”Pria tidak tahu diri ini melarangku.”

”Benda terakhir yang kauperlukan saat ini adalah handphone. Biarkan orang lain mengurus dirimu sekarang, sayang.”

”Sayang, aku hanya ingin memastikan.”

”Kau hanya ingin memastikan.” hampir serempak ucapan itu keluar dari mulutku dan Mayza.

Kami semua kemudian terbahak.

Hampir setengah jam sebelum acara makan malam ini dimulai. Laura sengaja mengumpulkan sahabatnya dan Mayza malam ini, sebelum besok mereka menikah. Seperti yang telah kuduga, deretan teman Laura adalah yang paling beragam dan sangat acak. Aku mengagumi kemampuannya menarik perhatian berbagai golongan.

Sebaliknya sahabat Mayza hampir semuanya aku kenal. Kami bertiga memang sudah kenal sejak lama sehingga bisa dikatakan teman Mayza adalah temanku. Temanku adalah teman Mayza. Teman kami berdua adalah teman Laura. Lalu hampir semua teman Laura bukan temanku dan Mayza. Aku seperti kembali ke bangku SMP saat belajar irisan dan gabungan matematika.

“Di mana dia?” tangan Laura dengan gesit mencubit pinggangku.

“Astaga. Laura. Kau hampir membuatku menumpahkan minumanku.” aku berbisik tak suka. “Aku akan menjemputnya kalau kau memang mau.”

Laura lalu memberiku tatapan MENGAPA TAK KAU LAKUKAN SEJAK TADI.

Aku pergi dengan bersungut-sungut.

*****

Sampai di hotel aku baru menyadari bahwa aku tidak tahu di kamar berapa Alan menginap. Resepsionist hotel yang aku yakin benar tahu siapa yang kumaksud dengan halus menolak permintaanku saat menanyakan kamar Alan.

“Kami tidak bisa memberitahukannya.”

“Tapi dia temanku.” Aku hampir menggeram.

“Yang kau tidak tahu nama lengkapnya.”

Aku hampir tak percaya mendengarnya. Gadis tengik.

Aku menelepon Mayza, “Apakah Laura di sampingmu?”

“Tidak. Ada apa?”

Aku menutup telepon dengan gusar. Oh Tuhan. Cobaan macam apa ini?

“Hey. Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku berbalik dengan cepat.

Alan tersenyum. Ia tampak rapi. Jauh lebih menawan dari yang kulihat tadi pagi. Aku membalas senyumnya. “Aku tidak menemukanmu di pesta. Maksudku, kau tidak hadir di pesta. Laura memintaku untuk menjemputmu.”

Kemudian aku menyadari bahwa ia membawa travel bag. Keningku mengernyit.

Alan menunjuk kafe hotel. Aku dengan otomatis mengikuti langkahnya. Ekor mataku menangkap si resepsionist melayangkan pandangan tak suka.

*****

Jam makan malam sudah lewat jadi kafe hanya terisi beberapa orang yang bertahan untuk berbincang dengan rekannya. Atau sekedar mendengarkan tampilan live music.

Alan memilih sudut yang paling sepi. “Kau ingin memesan sesuatu?”

Aku memesan minuman. Alan hanya mengatakan nanti pada pelayan yang segera menjauh setelah mencatat pesananku.

“Aku memikirkan perkataanmu.”

Aku mengerjapkan mata. Menunggu.

“Kau mengatakan bahwa aku berlebihan dalam memandang wanita yang selama ini mendekatiku.”

Aku menggerakan bahu, tidak tahu harus berkata apa.

“Aku akan mengirim pesan pada Laura bahwa aku tidak bisa hadir pada pernikahannya. Kurasa ia akan mengerti.”

“Tapi kau sudah di sini.”

“Ya, tapi aku tak merasa tempatku di sini.”

“Di mana tempatmu?” Aku mengangkat alis. “Internet?”

Alan tergelak.

“Laura tidak pernah tahu aku yang sebenarnya karena aku tidak pernah bisa jujur dengan keadaanku. Seperti yang kukatakan di mobil, aku sempat berpikir bahwa ia adalah orang yang tepat buatku. Tapi aku sama sekali tidak memberinya kesempatan.”

Aku mengernyitkan kening.

“Kurasa aku akan mulai dari nol lagi. Kali ini tanpa mencoba untuk menilai pendapat orang lain terhadapku.”

Aku menggeleng. “Sebenarnya aku tidak mengerti.”

Alan tersenyum.

“Dengarkan pendapatku.” Aku berdehem. “Kau memperumit keadaanmu sendiri. Itu tidak benar. Hiduplah dengan sederhana.”

Alan mengangguk.

“Aku tidak tahu seberapa parah kualitas wanita yang selama ini mendekatimu. Tapi aku percaya, akan ada seseorang di luar sana yang sepadan denganmu. Yang bisa kaucintai. Dan mencintaimu balik.”

Alan melirik jam tangannya. “Aku sudah memesan tiket pulang. Aku harus pulang.”

Aku mengangguk. “Ingin kuantar?”

“Kalau kau tidak keberatan.”

Sekali lagi aku merasakan tatapan sinis si resepsionis saat melewatinya. Kali ini aku hanya tersenyum. Kutunggu saat Alan mengembalikan kunci. Lalu beriringan kami menuju mobil.

“Astaga. Hujan turun lagi.” Aku menadahkan tangan. Merasakan gerimis yang tertiup angin.

Alan hanya tersenyum dan menanyakan arah mobilku. Saat aku mengencangkan sabuk pengaman terpikirkan sesuatu olehku.

“Hey, kau bukan gay kan?”

Alan tergelak dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku. Menciumku.

SELESAI

Advertisements

4 thoughts on “Sehari Sebelum Pernikahan Laura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Sebuah Panggilan: Menulis

Escanaba Ship

Since March 07, 2015.

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: