dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Lidya

TheHolidayDear M.

Aku putus dengan Damar siang ini. Akhirnya, apa yang kutakutkan selama dua minggu terakhir terjadi juga. Putus. Aku bahkan masih belum sepenuhnya meresapi hal ini.

Lidya menggeleng pelan. Jemarinya hampir menekan tuts ‘backspace’ jika tidak didengarnya suara ketukan di pintu kamar.

“Ya, masuk.”

Pintu membuka dan wajah Popi muncul. Bibirnya melengkung ke bawah. “Bolehkah aku masuk?”

Lidya ikut menirukan mimiknya. “Masuklah.”

Popi setengah menghambur masuk dengan tangan terentang, memeluk Lidya yang gelagapan di atas kursinya.

Hey, I’m okay.

Popi melepas pelukannya. “Are you sure?” matanya memerah. “Aku langsung kesini saat aku tahu.”

Thanks.” Bisik Lidya. Ia menunjuk tempat tidurnya. “Duduklah. Kau baik sekali.”

Popi mengamati wajah Lidya lekat-lekat sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari bahu sahabatnya itu. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke segenap penjuru ruangan.

“Kau masih menyimpan barang-barangnya.”

“Oh, Popi. Bisakah kita membicarakan hal lain? Aku tidak sedang ingin membahasnya.”

Popi menggelengkan kepalanya, kemudian membisikkan kata maaf. Ia lalu duduk di atas tempat tidur. “Kau sudah makan?”

Lidya meletakkan dagunya di atas sandaran kursi. Menggeleng.

I know it. Aku bawa makanan. Kau ingin makan sekarang atau nanti?”

“Nanti saja.”

Popi mengangguk pelan. Ia kembali mengedarkan pandangan ke segenap ruangan. Kali ini dengan lebih seksama. Lidya mengikuti pergerakan pandangan mata sahabatnya itu.

Meja kecil di samping tempat tidur. Weker digital.

“Aku harus mengembalikannya. Damar sangat senang wekernya yang itu.” tanpa sadar kalimat itu terlontar dari mulut Lidya. Ia merasa wajahnya memanas.

Popi membalikkan wajahnya. Seakan tak percaya. “Kau serius?” Ia kemudian tertawa. “Kau punya kotak atau plastik apalah, biar aku bungkus sekarang juga.”

Lidya menunjuk box kecil di bawah tempat tidurnya. “Kau bisa menggunakan itu.”

Popi mengangguk. Ia bangkit dengan bersemangat. “Baiklah. Aku akan membantumu menyingkirkan benda-benda milik Damar sialan itu. Kau tinggal menyebutkan yang mana saja dan kita akan memastikan malam ini kau terbebas dari apapun hal yang bisa membuatmu mengingatnya. Oh… benar-benar tidak bisa kupercaya. Akan kurobek-robek wajahnya yang tampan itu jika nanti aku berjumpa dengannya.”

Lidya mau tak mau tersenyum.

*****

 

Dear M.

Aku putus dengan Damar siang ini. Akhirnya, apa yang kutakutkan selama dua minggu terakhir terjadi juga. Putus. Aku bahkan masih belum sepenuhnya meresapi hal ini.

Bahkan setelah lebih dari setengah hari.

Popi menginap di kamarku. Ia sekarang sudah pulas. Ah… menyenangkan sekali rasanya melihat wajah bahagianya. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Ia bilang ia langsung kemari setelah mendengar aku putus dari Damar. Padahal aku tahu ia juga sibuk sekali.

Ia juga membantuku ‘menyimpan’ barang-barang yang berkaitan dengan Damar.

Kau tahu, baru beberapa menit yang lalu aku sedang duduk di lantai, bersandar ke dinding kamar dan memeluk box itu. Tanpa bisa ditahan aku menangis. Ini tangisan kedua hari ini. Yang pertama tentu saja saat Damar bilang bahwa kami harus putus.

Tangisan yang kedua ini terasa menyesakkan sekali. Mungkin juga karena aku harus sedikit menahannya agar Popi tidak terbangun.

Kau tahu apa yang ada di dalam box?

Dear M.

Kenapa harus putus?

*****

 

Popi mengangguk. Ia bangkit dengan bersemangat. “Baiklah. Aku akan membantumu menyingkirkan benda-benda milik Damar sialan itu. Kau tinggal menyebutkan yang mana saja dan kita akan memastikan malam ini kau terbebas dari apapun hal yang bisa membuatmu mengingatnya. Oh… benar-benar tidak bisa kupercaya. Akan kurobek-robek wajahnya yang tampan itu jika nanti aku berjumpa dengannya.”

Lidya mau tak mau tersenyum.

“Weker digital itu.”

Popi tanpa membuang waktu segera mengambilnya. “Oh. Ia bahkan menuliskan namanya pada benda sialan ini. Memuakkan.”

“Dia memberikannya begitu tahu aku senang menulis saat pagi dan dini hari.” Lidya mengulurkan tangannya, meminta weker itu. “Aku yang menulis namanya. Bodoh sekali.”

Popi menggeleng pelan. “Kau hanya tidak terlalu bijak saat itu. Siapapun juga pasti akan terjebak oleh wajah tampan dan mulut manis seperti itu. Belum lagi kenyataan bahwa dia bisa sangat perhatian.”

“Damar memang perhatian.” Lidya mengiyakan. Senyumnya perlahan mengembang. “Jika tidak ia tidak akan memberikan weker seperti ini. Kau tahu, weker ini akan menyala saat gelap, deringnya tidak terlalu bising, bahkan angkanya bisa sangat jelas dilihat meskipun sekilas lalu kita melihatnya. Aku pernah mengatakan pada Damar bahwa aku tidak suka kamarku gelap namun aku juga tidak suka tidur dengan lampu menyala, dan aku benci lampu tidur yang membuatku merasa masih seperti anak SD. Aku juga pernah mengatakan pada Damar bahwa aku tidak suka dibangunkan. Rasanya aneh sekali. Aku ingin bangun sendiri dengan perlahan; kau tahu bunyi apa yang dihasilkan oleh weker ini?”

Popi merebut weker itu dari tangan Lidya. “Kurasa tidak terlalu bijaksana membahas kebaikan benda ini secara mendalam. Kau harus fokus. Kita sedang berusaha membuang Damar sialan dan benda-benda sialannya itu dari hidupmu, okay?”

“Tapi apakah itu berarti kita harus berbohong? Aku rasa tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa weker itu memang sesuatu yang cocok untukku.”

Next please. Benda lain?” Popi menunjuk jarinya berkeliling.

*****

 

Dear M.

Kukatakan padamu bahwa untuk meresapi perpisahan ini sudah benar terjadi saja aku masih belum mampu. Semuanya terjadi terlalu cepat. Meskipun seperti yang telah kukatakan, aku telah memikirkan kemungkinan ini sejak dua minggu yang lalu. Sejak Damar perlahan-lahan berubah.

Menurutmu, bisakah patah hati itu dipersiapkan?

Seharusnya aku sudah menyiapkan diri untuk patah hati.

Karena semua tanda-tandanya sudah ada.

Hanya mungkin benar yang dikatakan oleh orang bahwa jika kita sedang jatuh cinta, kita akan selalu menemukan alasan untuk terus membenarkan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk kita.

Dalam hal ini Damar.

Damar sialan.

Hahaha. Aku hanya mengutip apa yang dikatakan Popi.

Ia masih tidur seperti mati.

*****

 

Next please. Benda lain?” Popi menunjuk jarinya berkeliling.

Lidya mengalah dan mengedarkan pandangannya. Matanya tertumbuk pada pigura foto yang menempel di dinding. “Foto itu. Kurasa kau bisa membuangnya.”

Popi mengikuti arah telunjuk Lidya. “Oh. Kau serius?” Ia melepas foto dari pigura. “Kurasa akan lebih baik jika kau menggunting bagian yang ada Damar sialan ini. Lihatlah, ia terlihat begitu tampan dalam foto ini.”

Lidya mengikik. “Kau selalu terobsesi olehnya. Sebegitu tampankah dia?”

“Oh ya? Baru tahukah kau?” Popi lebih terbahak. “Ketika kalian jadian, aku iri setengah mati. Maafkan aku. Aku bahkan tidak tahu kalau kau sedang dekat dengan Damar saat itu. Seingatku kau justru lebih sering bersama Habib, teman Damar yang senang menulis itu. Kalian akan terlihat cocok sekali bersama. Meskipun setelah kulihat kau dengan Damar, kalian justru sangat serasi dan melengkapi. Ah, coba kau lihat senyumnya ini. Menyebalkan sekali.”

“Itu foto saat ulangtahunmu tahun lalu.”

Popi membelalak. “Benarkah? Ah. Sayang sekali.”

Lidya mengangguk. “Kau ingat yang kuberikan saat itu padamu?”

One of the best. Aku senang sekali dengan tempat makan itu. Bisa memuat banyak makanan tanpa membuatku terlihat rakus.” Popi kembali tertawa.

“Damar yang memilihnya.”

Wajah Popi sontak berubah. “Ah.” Ia mengibaskan tangannya. “Kau seharusnya tidak mengatakannya.”

Lidya tersenyum. “Benarkah?”

Popi mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian duduk di atas tempat tidur, memandangi foto di tangannya. “Kalian benar-benar terlihat bahagia. Sungguh.”

Lidya hanya diam.

Popi masih memandangi foto tersebut, sampai kemudian ia mengangkat wajah dan memandangi Lidya lekat-lekat sebelum akhirnya berkata. “Aku tahu kau sedang tidak ingin membicarakannya sekarang, tapi aku benar-benar tidak habis pikir kenapa kalian bisa putus?”

*****

 

Dear M.

Kenapa harus putus?

Aku masih terbayang detil kejadian siang ini. Entah kenapa, ketika Damar meminta ketemuan untuk makan siang, perasaanku lain. Apakah itu firasat? Ataukah karena Damar bahkan meminta waktu untuk ketemuan makan siang? Aku ini pacarnya, seharusnya tidak perlu minta izin seakan hal tersebut akan memberatkanku. Jika dipikir lagi, semua memang seperti sudah dipersiapkan.

Aku datang dengan perasaan gundah. Meskipun tempat makan itu selalu jadi tempat ketemuan yang menyenangkan selama ini, entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku lapar tapi tidak nafsu makan. Aku hanya ingin segera bertemu Damar.

Lalu dia datang. Dengan senyuman khasnya. Dengan sapaan tangan khasnya setiap kali berjumpa.

Duduk.

Memesan makanan.

Menanyakan apa yang ingin kupesan.

Memastikan tidak ada lagi yang ingin kupesan.

Tersenyum.

Menanyakan bagaimana pagiku sejauh itu.

Oh dear M.

Apakah aku akan menemukan pria lain seperti Damar?

Tapi kupikir ia benar-benar kejam. Ia memutuskanku setelah makan siang. Mungkin ia berpikir sakit hati akan sedikit berkurang rasanya jika sedang kenyang.

Entahlah.

Seperti yang kukatakan, sampai sekarang semua masih belum sepenuhnya kuresapi. Belum kumengerti.

Aku bahkan belum mengganti nama Damar di handphone.

Damar sialan.

Hahaha.

Bagus bukan?

.

.

.

Damar menanyakan padaku apakah aku sudah siap menikah.

Tentu saja belum.

Saat ini kurasa tidak ada yang siap untuk kukerjakan.

Kuliahku keteteran. Skripsi masih jauh. Nilai-nilaiku biasa saja. Menulis juga masih setengah hati. Dari skala satu sampai sepuluh; lima saja mungkin sudah bagus skorku.

Aku menggeleng pada Damar.

Lalu dia mengatakan bahwa jika aku bisa mempersiapkan diri dalam enam bulan, ia ingin agar kami menikah.

Aku bersyukur tidak makan terlalu banyak saat itu karena bisa saja saat itu aku muntah.

Perutku mual sekali.

Dear M.

Setiap perempuan seharusnya bahagia jika dilamar oleh pacarnya. Entah kenapa, aku justru takut.

Takut sekali.

Siang itu, aku takut tidak akan pernah bisa membahagiakan Damar.

*****

 

Popi sampai ternganga.

Matanya membelalak.

Lidya mengkerut di kursinya. “Okay, I’m sorry… Aku takut sekali saat itu.”

“Kau minta putus dengan Damar?” Popi masih membelalak.

“Kesinikan foto itu. Kau akan meremasnya jadi lecek.”

Popi melempar foto di tangannya. “Lidya. Kau tahu aku datang sejauh ini untuk menghiburmu. Kau bilang kau baru putus dari Damar.”

“Aku memang baru putus dari Damar.”

“Tapi kau tidak bilang bahwa kau yang minta putus dari Damar.”

“Itu hanya proses terjadinya putus. Hasil akhirnya ya kami berdua tetap putus.”

Popi membuat kedua cakar dengan tangannya, seakan ingin mencekik Lidya. “Kau benar-benar membuatku sakit kepala.”

“Aku sendiri sudah sangat sakit kepala.”

“Jangan bicara lagi.”

“Popi, maafkan aku.”

Popi menggeleng pelan. “Katakan barang apa saja lagi yang bisa kubuang. Jika kau memang ingin berpisah dari Damar, berpisah saja sekalian. Jangan setengah-setengah. Dan jangan menangis setelah mencampakkan pria seperti itu.”

“Kau jangan membuatku merasa semakin buruk.”

“Lidya…” Popi menajamkan matanya. “Tidakkah kau dengar yang kukatakan selama ini tentangmu dan Damar? Apalagi tentang Damar? Dia pria terbaik yang pernah kau miliki dan sekarang kau meminta putus darinya karena ia ingin menikahimu? Oh Tuhan. Kau layak disambar petir.”

Lidya sampai menutup mulutnya dengan tangan, terkesiap. “Kau kejam sekali. Aku mengaku salah tapi tolong cabut doamu itu.”

Popi memberengut. “Aku mencabut doaku barusan.” Ia kemudian menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. “Aku mau tidur. Jangan ganggu aku.”

“Bukankah kau seharusnya menemaniku. Aku kemungkinan besar akan down setelah putus.”

Popi melempar bantal ke arah muka Lidya.

*****

 

Lidya menghela nafas dengan gelisah. Ia menatap layar handphonenya, membaca ulang sms yang dikirim oleh Damar. Serta pesan lain yang ia rasa berbeda dalam dua minggu terakhir.

Kau punya waktu untuk makan siang? Aku ingin bicarakan sesuatu.

Lidya menutup handphonenya dengan gemas. Ia tak habis pikir. Perutnya lapar sekali namun ia tak bisa membayangkan memasukkan makanan dari mulut. Tak ada nafsu makan. Ia kemudian setengah melirik jam di pergelangan tangannya.

Seharusnya Damar sudah datang.

Dan ia benar-benar sudah datang.

Lidya bisa melihat Damar masuk, di pintu depan ia berhenti sejenak, mengedarkan pandangan, mencarinya tentu saja. Pandangan mereka bertemu. Senyum Damar terkembang. Lidya merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Sesak nafas.

“Hai. Sudah lama?” Damar mengangkat telapak tangannya, ia selalu begitu. Lidya mau tak mau tersenyum. Ia menggeleng.

“Baru saja.”

Seorang pelayan mendekati mereka.

“Kau ingin apa?”

“Aku sedang tidak ingin makan.”

“Kau harus makan.” Damar tertawa pelan. Kemudian memesan dua porsi makanan. Lidya tahu benar ia akan memesan makanan itu, ia tidak akan pernah menolak makanan itu.

“Minumnya yang biasa kan? Ada lagi nggak?”

Lidya menggeleng. “Aku serius sedang tidak ingin makan.”

Damar kembali tertawa. Ia berpaling kepada pelayan dan mengatakan pesanannya itu saja dulu. “Kau terlihat suntuk. Kuliahmu sedang sibuk?”

Lidya menggeleng. “Kau ingin bicara apa?”

“Aku ingin makan. Lapar sekali. Nanti setelah makan, baru kita bicara, okay?”

“Terserah kau sajalah.”

Damar tersenyum. “Kau jelek sekali jika sedang tidak mood.”

“Apakah itu berarti aku tetap jelek jika sedang mood?”

Damar mengangguk-angguk. “Bisa jadi.”

“Kau menyebalkan sekali.”

Damar tertawa. “Kau baru menyadarinya sekarang.” Ia kemudian menarik makanan yang baru saja disajikan. “Ceritakan padaku tentang harimu. Aku akan mendengarkan sambil makan.”

Lidya menggeleng pelan. “Kau saja yang bercerita. Aku sedang ingin mendengarkan.”

“Baiklah. Kita makan dulu kalau begitu.” Damar menyodorkan piring ke depan Lidya. “Ayolah. Kau harus makan.”

Lidya menyuap makanannya dengan malas. Debar jantungnya masih tak beraturan. Ia memperhatikan Damar makan dengan lahap.

“Jangan melihatku seperti itu. Aku bisa tersedak.”

“Aku tidak boleh melihatmu? Kau duduk tepat di depan mataku.”

Damar terbahak. Menyapukan tisu ke bibirnya. Ia meminum habis isi gelasnya. Berdehem kecil.

“Hei.”

“Ya?”

“Kau sudah siap menikah belum?”

Lidya bersyukur ia tidak sedang minum, ia terbatuk, tidak ada yang keluar dari mulutnya.

“Kau bilang apa?”

“Kau sudah siap menikah belum?”

Is it a rhetorical question?”

Damar tertawa. “Jika kau mau, aku ingin melamarmu. Kita punya waktu enam bulan untuk mempersiapkannya.”

“Enam bulan? Kenapa enam bulan? Kau akan mati setelah enam bulan?”

“Bisa jadi.” Damar tertawa. “Ayolah. Kau ingin menikah denganku tidak?”

“Damar, aku masih kuliah.”

“Aku juga masih kuliah.”

“Kau bekerja, lalu memutuskan untuk nyambi kuliah.”

“Kau tidak ingin menikah denganku?”

“Damar…”

“Ya?”

“Kau tahu aku belum siap untuk menikah.”

“Kita punya waktu enam bulan untuk mempersiapkannya. Dalam enam bulan ini, kita akan benar-benar fokus pada urusan masa depan kita berdua. Bagaimana?”

“Kau membuatku takut.”

“Aku membuatmu takut?”

“Kau membuatku takut.”

“Dengarkan aku. Kurasa kau pasti sudah tahu ini akan terjadi. Jika aku tidak salah memilih, maka seharusnya kau sudah mengerti bahwa aku sedikit berubah akhir-akhir ini. Aku ingin kita tidak lagi meneruskan hubungan yang tidak benar ini.”

“Pacaran?”

Damar mengangguk.

“Hubungan ini tidak benar?”

Damar mengangguk.

“Lalu kenapa kau ingin melanjutkan hubungan yang tidak benar ini ke pernikahan?”

“Aku tidak ingin melanjutkannya. Kita putus. Nanti nyambung lagi, tapi dengan tujuan untuk menikah.”

“Aku tidak mengerti. Kita pacaran. Lalu putus. Kemudian pacaran lagi? Kemudian menikah?”

“Aku tidak ingin lagi jadi pacarmu. Aku ingin lebih.”

Define lebih.”

Damar mengulurkan kantong kain yang sedari tadi ia bawa. “Di dalamnya ada buku-buku yang bisa kau baca. Tentang pernikahan. Aku ingin jika kita menikah, kita mengawalinya bukan dengan hubungan yang salah. Mungkin kita telah melakukan kesalahan saat ini, tapi tidak ada alasan untuk meneruskannya jika kita sudah menyadari kesalahan tersebut.”

“Aku tidak merasa ada yang salah.”

“Makanya kau harus baca buku-buku ini.” Damar tersenyum.

“Jadi kita putus?”

Damar mengangguk.

“Aku akan menghubungimu lagi enam bulan kedepan.”

 

***** selesai *****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Sebuah Panggilan: Menulis

Escanaba Ship

Since March 07, 2015.

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: