dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Ivan

cold5Aku memijit hidungku yang tersumbat. Kepalaku juga masih berdenyut. Dengan cepat kuteguk sisa air putih di dalam gelas, mengizinkannya menyapu sisa obat penghilang nyeri yang baru kuminum. Lidahku pahit sekali rasanya. Kutuang lagi segelas air dan kembali kuhabiskan.

Aku tahu aku tidak akan bisa tidur lagi hingga pagi. Kubuka kulkas, mencari apa saja yang bisa kumakan. Kutemukan dua potong cokelat dan sekantung permen. Aku membawanya ke sofa, meletakkannya di atas meja. Kugeser tumpukan laporan kasus yang harus kupresentasikan nanti siang.

Aku mengunyah permen pertama sambil membuka laptop. Kucoba merapikan file-file kerja itu. Saat itulah bel berdering. Kulirik jam di sudut kanan bawah layar. Siapa yang bertamu pada jam tiga pagi?

Aku mendekati pintu, mengintip lewat lubang. Aku tercekat, mengenali siapa yang datang.

“Kau mau apa?”

“Aku ingin masuk. Tolonglah. Aku terluka.” Suara itu terdengar putus-putus. Seakan menahan sakit.

Aku menarik nafas panjang, mengambil kunci dari atas meja kecil di dekat pintu. “Kau tidak sedang membawa masalah padaku kan?”

Suara itu hanya mengerang mengiyakan.

Seiring dengan bunyi pintu yang membuka, Ivan menyeret langkahnya masuk. Ia terlihat limbung. Ia bahkan hampir menabrakku. “Hei. Kau kenapa?” aku mencoba menahannya.

Ia hanya menggeleng dan terus menarik kedua kakinya menuju sofa. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya di sana. “Kau punya kompres?”

Aku menggeleng pelan. “Kau tidak boleh duduk di sana. Itu tempatku. Aku sedang sibuk.” Aku mengayunkan tanganku padanya. Menunjuk sofa yang satunya. “Kau boleh di sana. Aku akan lihat apa yang bisa kulakukan pada wajahmu. Coba kulihat dulu. Ah…” aku mendekatinya.

Ivan menuruti kata-kataku dan memindahkan dirinya. Berbaring pada lengan sofa dan meringis pelan saat aku menyentuh wajahnya.

“Kau kenapa?” aku memeriksa wajahnya dengan hati-hati. Kemudian berpindah pada kedua lengannya. “Adakah lagi yang sakit?”

Ia menggeleng. “Berikan saja aku kompres.”

Aku bangkit. “Buka bajumu. Kau seperti habis dipukuli.” kupandangi ia lekat-lekat. Ivan menutup matanya, dadanya turun naik dengan cepat.

Aku mendecak kesal. Kuambil segelas air putih untuknya.  “Adakah orang yang mengikutimu?”

Ivan menggeleng. “Berikan saja aku kompres.”

Sejurus kemudian ia sudah memegangi handuk yang dibasahi dengan air es. Ia tampak berhati-hati mengelap wajahnya. Menekan pinggiran lukanya dengan perlahan, mencoba menutupi erangan kesakitannya.

Aku duduk di depannya. Memandangi yang ia lakukan. “Kaumau analgesik?”

Ivan menggerakkan lehernya, memiringkan wajah padaku. Ia mengangguk pelan. “Bisakah aku tidur di sini?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Kubawakan sebutir obat penghilang nyeri padanya. “Minumlah.” Kuambil handuk yang tadi ia gunakan. Membersihkan wajahnya lebih teliti. Ivan melewatkan beberapa memar. “Buka bajumu.”

Kali ini Ivan menurut. Ia membuka bajunya. Menunjukkan tanda-tanda lebam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Aku bisa melihat beberapa luka yang tepiannya mengering, menyerupai parit-parit buntu yang airnya habis. Kuperiksa dengan hati-hati. Aku merasa lebih lega saat memastikan ia tidak menderita pendarahan dalam.

“Transaksi tadi siang gagal…” Aku mengalihkan pandangan pada Ivan. Ia terpejam. Tapi mulutnya masih bergerak. “Polisi telah mengetahuinya. Semua saling menyalahkan…”

Kubiarkan saja ia bercerita.

“Entah siapa yang memulai. Kami saling serang. Padahal waktu itu baru saja polisi kehilangan jejak. Justru kami saling serang. Kurasa bisa saja aku mati waktu itu. Kurasa — ada yang mati waktu itu.”

Aku menghentikan gerakanku membersihkan lukanya. Ivan menyadarinya. Ia membuka mata dan berkata pelan. “Aku tidak akan membawamu dalam masalah ini. Aku sudah pastikan tidak ada yang mengikutiku. Aku berkeliling lima kali sebelum masuk ke depan komplek ini.” Ivan menelan ludah. Suaranya bergetar. “Kau tempat terakhir yang akan kutuju. Jika kau tidak membuka pintu, aku tidak tahu harus kemana lagi.”

Aku memeras handuk di tanganku. Mencelupnya kembali ke air es. Ivan masih menatapku lekat-lekat. Kelopak matanya berkedip-kedip perlahan. Bibirnya bergetar. “Terima kasih.” Kemudian ia menutup mata.

*****

“Aku tahu kalau kau yang akan dipilih.” Ivan menepuk bahuku. Aku menggeleng padanya. Mataku basah.

“Aku tidak mau pergi…” gumamku lirih.

“Jangan menangis begitu. Lihat aku.” Ivan mengangkat daguku agar mata kami bertemu. “Kau akan segera memiliki keluarga. Ayah. Ibu. Kau juga akan sekolah. Kau akan bisa membaca setiap hari. Kau bisa makan teratur.”

“Tapi kau masih di sini. Aku tidak ingin pergi jika tidak bersamamu…” aku mulai menangis.

Ivan tersenyum. Ia merapikan kuncir kuda rambutku. Memakaikan dengan baik tas di punggungku. “Aku akan mengunjungimu. Aku janji. Setiap hari Minggu aku akan datang. Kaulihat saja.”

Tangisku pecah berderai. Aku menghambur ke dalam pelukan Ivan. Saudara kembarku. Bahuku berguncang dengan keras. “Kenapa kau tidak bisa ikut saja? Aku akan bilang pada Pak Indra dan istrinya bahwa kau juga anak baik. Mereka akan mengambil kita berdua… aku tidak mau pergi sendirian…” aku menggeleng dengan keras.

Ivan mengelus rambutku dengan pelan. Ia menenangkanku dengan hati-hati. “Jangan menangis adikku sayang. Jangan menangis… kau tidak boleh lagi bersedih… sekarang adalah awal yang baru bagimu… kau ingat cita-citamu?” ia mendorongku dari pelukannya. Matanya menatap tajam padaku.

“Aku ingin jadi dokter.” Kataku tercekat.

“Kau tidak akan pernah jadi dokter jika terus tinggal di panti. Saatnya kau pergi. Dan aku janji bahwa kita akan selalu berhubungan.”

Aku mengusap mataku yang basah. Mengangguk pelan padanya. “Kau akan datang tiap minggu?”

Ivan mengangguk. Senyumnya menenangkan hatiku. Perlahan aku tersenyum.

“Sekarang bersihkan wajahmu. Tersenyumlah dengan manis. Lalu katakan selamat tinggal pada tempat tidur ini.” Ivan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurku.

Aku tertawa pelan mendengarnya.

*****

Ivan memang menepati janjinya untuk selalu berkunjung setiap hari Minggu. Terkadang ia datang sejak pagi. Kadang ia hanya sempat duduk lima belas menit untuk kemudian pulang karena hanya kebetulan mampir saat membeli keperluan panti. Tapi yang pasti ia selalu muncul setiap minggu. Aku tentu senang sekali. Apalagi Pak Indra juga tidak keberatan jika Ivan mengunjungiku.

Suatu hari, Ivan datang dan mengajakku ke taman. Kemudian ia berkata padaku. “Kurasa minggu depan aku tidak bisa datang.”

Aku terkejut mendengarnya. “Kenapa?”

Ivan menyunggingkan senyum rahasia. Aku tak bisa menahan keingintahuanku. Kudesak ia. “Katakan kenapa? Katakan kenapa kau tidak bisa datang minggu depan?”

Ivan kemudian menceritakan bahwa belakangan ada keluarga yang ingin mengadopsinya. Minggu depan ia akan diajak ke kebun binatang di luar kota. Itulah alasan kenapa ia mungkin tidak bisa datang.

“Tapi itu belum pasti. Mereka belum tentu mengadopsiku. Jika aku bisa terus berkelakuan baik, mungkin saja…” ia tersenyum bahagia.

Aku sampai ternganga. Kupukul pundaknya dengan penuh kesenangan. Kuucapkan selamat padanya. “Kau harus berusaha bertingkah baik. Jika kau berhasil, maka kita berdua bisa mendapatkan keluarga. Bukankah itu menyenangkan? Ah… sudah kuduga kalau kau juga akan merasakannya.” Mataku berbinar-binar.

Ivan mengangguk. Ia tampak jauh lebih dewasa dariku. “Bagaimana sekolahmu?”

“Semuanya lancar. Lusa adalah penerimaan raport. Jika aku kembali ranking satu, Pak Indra akan memberiku hadiah.”

Ivan mengangguk-angguk. Ia menepuk-nepuk pundakku dengan lembut. “Itu bagus sekali.”

Aku tersenyum padanya. “Berceritalah padaku. Aku senang mendengarmu bercerita. Ayolah…”

*****

Ivan berhasil mencuri perhatian keluarga itu. Ia akhirnya terpilih untuk diadopsi. Aku yang mendapat kabar itu kegirangan setengah mati. Langsung kutelepon ia di panti. Bu Yasmin, penjaga asrama yang mengangkatnya dan berbasa-basi sejenak menanyakan kabarku. Aku menjawabnya asal-asalan. Kuminta untuk bicara dengan Ivan. Namun alangkah terkejutnya aku ketika Bu Yasmin mengatakan bahwa Ivan telah pergi.

“Apa maksudnya ia telah pergi?!” Aku tak sadar telah berteriak di telepon. “Bukankah baru tadi pagi ia menelepon ke rumah dan mengatakan bahwa ia terpilih untuk diadopsi? Kenapa ia pergi?!”

Bu Yasmin menjelaskan dengan lembut bahwa keluarga yang mengadopsi Ivan itu adalah keluarga dari luar kota. Keberangkatannya dipercepat karena ada urusan lain yang mendesak. “Ivan minta maaf karena pergi begitu saja. Ia menitipkan surat pada Ibu. Kau bisa menjemputnya.”

Tangisku pecah saat aku menutup telepon. Bu Sukma, istri Pak Indra yang sedari tadi memperhatikan gelagatku saat menelepon menghambur dan memelukku untuk membuatku tenang. Aku menangis tanpa bisa kutahan. Air mataku mengalir dengan deras seperti anak sungai yang sedang banjir. Hatiku rasanya sedih sekali. Perasaan bahagia yang sesaat kurasakan segera terenggut oleh rasa kehilangan yang entah kenapa tak tertahankan perihnya. Dadaku sesak. Aku menangis semalaman.

Esoknya aku datang ke panti. Bu Yasmin memberikan surat Ivan. Aku membawanya ke kamar tidur Ivan. Kamarnya kosong, baru dirapikan. Ivan membawa semua barang-barangnya, tapi memang barangnya tidak banyak. Aku duduk di tepian tempat tidur. Baru aku membuka surat itu, air mataku kembali mengalir. Aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Mencoba menghentikan tangis.

Setelah rasanya lebih tenang, aku membuka surat di tanganku.

Adikku Safina. Buah hatiku yang kusayangi dengan segenap jiwaku.

Aku akhirnya pergi dari panti ini. Jika dulu kau menangis di pelukanku saat akan pergi, sekarang baru aku mengerti kenapa kaumenangis. Kau bukan hanya akan meninggalkan aku saat itu. Tapi kau juga akan meninggalkan hidupmu. Ya… sekarang aku mengerti. Betapa dinding kamar yang dingin, lorong-lorong panti yang sempit, atapnya yang berderai nyaring tertimpa hujan, mampu mengikat perasaanmu tanpa kausadari. Betapa aneh saat kau akan meninggalkan hidup yang telah kaujalani selama ini, tempat yang mungkin tak pernah diimpikan oleh siapapun di dunia ini, ternyata bisa jadi tempat yang begitu sejuk bagi kita anak-anak yang terbuang. Anak-anak yang hampir tersingkir oleh dunia. Panti ini yang menyelamatkan kita. Lalu kenapa kita harus meninggalkannya?

Benarkah ada tempat yang lebih baik di luar sana?

Aku sempat ragu saat itu. Lalu saat itulah aku mengerti. Kau telah berhasil melewati ini semua. Kau bahkan jauh lebih muda saat itu. Kau bahkan hanya bisa menggeleng untuk menyatakan perasaanmu. Tapi kulihat kau berhasil melewatinya. Maka kenapa aku tidak?

Aku menulis surat ini dengan terburu-buru. Aku diberitahu bahwa keberangkatan kami akan dipercepat hanya sesaat setelah aku menelepon ke rumahmu. Katanya kau sedang keluar. Sungguh, jika aku punya sesuatu yang bisa kukorbankan saat itu, akan kukorbankan agar bisa mendengar suaramu. Meski hanya di telepon. Aku benar-benar rindu padamu. Aku benar-benar ingin bertemu.

Adikku Safina tersayang,

Tapi biarlah, aku akan mengucapkan selamat tinggal lewat surat ini saja. Hingga kau tidak perlu melihat aku menangis. Ya… akhirnya aku menangis juga. Bagus juga karena kau tidak perlu melihat aku menangis. Kau akan terus mengingatku tanpa perlu melihatku menangis. Karena sungguh, aku tidak akan pernah melupakanmu. Tidak akan pernah.

Ah, aku menulis seakan kita tidak akan bertemu lagi. Kurasa aku melebih-lebihkannya.

Begini saja, kaupegang janjiku ini, begitu aku menginjakkan kaki ke rumahku yang baru, aku akan menulis surat padamu. Jika sempat akan kukirimkan hari itu juga, jika tidak, berarti kau dan aku harus bersabar menanti esok tiba.

Ah… betapa aku ingin memelukmu.

Selamat tinggal adikku sayang. Selamat tinggal. Sampai bertemu kembali.

Saudaramu.

Ivan

*****

Untuk pertama kalinya, Ivan melanggar janji.

Ia tidak mengirim surat padaku.

Tidak meneleponku.

Tidak.

Tidak ada apa-apa yang kuketahui sejak itu. Ivan lenyap seperti ditelan bumi. Lalu perlahan tapi pasti, seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai melupakannya. Entahlah, kurasa aku tidak benar-benar melupakannya.

Aku hanya tidak ingin mengingatnya.

*****

Aku menggerakkan leherku yang kaku. Mengucap syukur saat akhirnya laporan kasus yang menumpuk berhasil aku selesaikan.

Kepalaku kembali berdenyut. Aku melirik jam di komputerku. Sebentar lagi subuh. Aku bangkit dan mengambil wudhu. Sholat sebentar akan menghilangkan kantuk yang menggayuti kelopak mata.

Seusai sholat aku duduk bersandar di tepi tempat tidur. Menunggu azan subuh dikumandangkan.

Sepi.

Aneh sekali, biasanya akan ada orang mengaji sebelum waktu sholat tiba.

Kudengar Ivan mengerang di ruang duduk. “Kau baik-baik saja?” aku bertanya.

Ivan tidak menjawab.

Maka aku bangkit dan mendatanginya. Ivan sudah duduk. Ia menatapku mendekat. “Kau pergi jam berapa?”

Aku menggigit bibir. “Jam tujuh. Tapi aku bisa meminta izin untuk terlambat sejenak. Kau sudah baikan?”

Ivan menggeleng. “Kau tidak usah mencemaskan aku. Penuhi saja jadwalmu. Aku baik-baik saja.”

“Kau ingin makan?”

“Kaupunya makanan?” Ivan menyunggingkan senyumnya.

Aku tertawa pelan. “Maafkan aku. Aku tidak biasa sarapan pagi. Kau harus menunggu sampai terang untuk bisa sarapan.”

Ivan menggeleng-geleng. Ia menatapku lekat-lekat. “Kau tidak berubah.”

Menghindari pembicaraan tentang diriku, aku menjauh dan mendekati dispenser. “Tentu aku berubah. Tidak mungkin manusia tidak berubah.” Kutuang air panas. “Kau ingin teh? Atau susu?”

“Kauingat saat kita bertemu?” suara Ivan meninggi, memecah sepi.

Gerakanku terhenti. “Tentu aku ingat.” Aku menjawab pelan. Kutuangkan susu ke gelas. Kubawa ke ruang duduk.

“Kau seperti tidak mengenalku saat itu.”

Aku menatap Ivan dengan tajam. “Aku tidak mengenal seorang pencuri. Apalagi jika pencuri itu punya wajah babak belur dihantam oleh massa. Kau beruntung tidak mati waktu itu.”

Ivan menggeleng. “Kurasa aku sudah hampir mati. Lalu kulihat wajahmu.” Ia menatapku lekat-lekat. “Ya. Aku melihatmu. Lalu entah darimana datangnya, kekuatanku pulih. Aku sembuh dengan cepat. Kurasa aku harus berterimakasih padamu.”

Aku menyilangkan tangan di depan dadaku. Menatapnya balik. “Sebenarnya kau ingin mengatakan apa?”

“Aku sayang padamu.”

Aku mengibaskan tangan padanya. “Simpan untukmu sendiri. Aku sudah berhenti memikirkanmu sejak saat itu.”

“Saat itu? Saat kapan? Saat aku pergi?” Ivan berkata dengan dingin.

Bibirku bergetar. Aku menarik nafas berkali-kali sebelum akhirnya kalimat itu keluar. Telah lama aku ingin mengatakannya.

“Mengapa kau tidak menghubungiku? Mengapa kau menghilang begitu saja? Apa pembelaanmu?” tanpa ku inginkan, pandanganku mengabur. Aku mengangkat wajahku sesaat, menghindari air mataku tumpah. “Apa ceritamu?”

Ivan menyandarkan punggungnya dengan hati-hati. Tapi ia tidak mengucapkan apa-apa.

“Kau tidak punya alasan?” aku bertanya getir. “Berbohong saja padaku. Itu akan lebih baik. Paling tidak aku tidak lagi bertanya-tanya. Ayo. Ceritakan salah satu kisah indahmu. Ceritakan padaku.”

Ivan menggeleng. Ia mengangkat tangan. Aku terdiam.

“Perampokan.” Ivan berkata pelan. “Mobil kami dihentikan. Tepatnya, kami berhenti di tengah perjalanan saat ada mobil yang rusak. Mereka minta bantuan. Kami berhenti. Lalu mereka menembak. Tanpa bicara apa-apa. Kurasa aku tidak akan pernah bisa menghapus kenangan itu. Mereka ditembak di depan wajahku.”

Aku mengangkat dagu.

“Tapi mereka tidak menembakku. Mereka membawaku pergi. Aku tidak tahu kemana. Aku bahkan tidak berusaha mengingat semuanya. Tidak ada yang perlu diingat. Sejak saat itu, seluruh hidupku tidak pantas dikenang.” Ivan menghela nafas.

Aku mengangguk pelan. “Itu cerita yang bagus. Aneh sekali, seharusnya aku sedih.” Aku bangkit dari dudukku, memandang pada Ivan. “Tapi aku tidak sedih sama sekali. Aneh sekali bukan?”

Azan subuh memecah keheningan yang tercipta. Aku sholat dengan tergesa. Menyiapkan segalanya untuk di rumah sakit. Hari ini aku akan jaga malam.

Saat keluar dari kamar mandi, kulihat Ivan sudah kembali tertidur. Kudekati ia, memperhatikan luka-lukanya. Kemudian aku menyusun berkas laporan jaga yang sudah kucetak. Gerakanku membangunkan Ivan.

“Kau sudah akan pergi?”

Aku mengangguk. “Kau harus pergi siang ini. Aku tidak akan pulang sampai besok. Aku jaga malam. Akan kutinggalkan sejumlah uang untukmu di atas meja, di dekat pintu. Kau bisa membeli makanan.”

Ivan bangkit dan mengerjapkan matanya. Aku memang sudah membuka tirai jendela. Ia menatap berkeliling.

“Aku baru sadar kalau rumahmu berantakan sekali.”

Aku tak menggubrisnya. Kumasukkan laptop ke dalam tas. “Jika kau masih ingin minum obat, aku meninggalkannya di dalam lemari obat. Di belakang cermin. Di kamar mandi.”

Kuseret langkahku. Saat mencapai pintu aku berbalik. Seakan merasakannya, Ivan memalingkan tubuhnya perlahan, pandangan kami bertemu.

“Sebelum kau pergi, aku ingin menanyakannya. Kali ini, kumohon jawablah dengan jujur. Kurasa aku tidak akan tenang tanpa jawaban jujurmu.” Aku membetulkan letak tas di bahuku. Entah mengapa, dadaku sesak sekali. Aku tidak berani menatap Ivan. Kupandang ujung sepatuku. “Mengapa kau tidak menghubungiku?” Kuangkat pandanganku kepada Ivan, sosok itu mengabur dalam penglihatanku. Aku mengerjap.

Kening Ivan berkerut. Ia menggeleng lemah. “Aku tidak pernah sampai ke rumah…”

*****

“Ah… kakiku pegal sekali. Aku tidak mengira akan seramai itu pasien tadi malam…”

Aku menahan senyum mendengar ucapan Silla. Kukeluarkan kunci dari dalam tas. “Sebelumnya aku minta maaf karena semuanya sangat berantakan. Aku tidak sempat bersih-bersih.”

“Ah. Kau berbasa-basi.” Silla menepuk pundakku. “Kautinggal sendirian kan? Enak sekali, aku harus berbagi rumah dengan Tara dan Ida. Ah… letihnya…”

Aku sudah menelepon rumah dan tidak ada yang mengangkat. Berarti Ivan telah pergi. Maka aku berani mengatakan iya saat Silla ingin berkunjung. Ia ingin meminjam buku.

“Masuklah.” Aku membuka pintu, kuletakkan kunci di atas meja. Keningku berkerut. Kusimpan uang itu.

“Kau memang hebat berbasa-basi.” Silla mendahuluiku. “Ini rumah terbersih yang pernah aku masuki.”

Aku tertegun. Memandang berkeliling. Bibirku bergetar. Tapi tak ada yang bisa kuucapkan.

Kuperiksa kamar mandi. Kamar tidur. Kubuka kulkas. Puas berkeliling akhirnya aku kembali ke ruang duduk. Silla sedang memegang remote control. “Bolehkah aku menonton?”

Aku mengangguk. “Kau ingin minum apa?”

“Apa saja. Tapi kuharap sesuatu yang dingin. Ah… aku lelah sekali.” Silla menjawab. Aku tersenyum. Kutinggalkan ia.

Kutuang sirup jeruk ke dalam gelas. Menambahkan air.

“Ah, betapa lelahnya… Oh… lihatlah Safina, kurasa ini kasus yang tadi malam!”

Aku mengambil beberapa balok kecil es. “Ada apa?”

“Aku belum menceritakan padamu ya? Saat aku jaga di gawat darurat tadi malam, ada seorang laki-laki datang. Ia benar-benar parah. Ia tak tertolong. Kurasa ini kasusnya. Beritanya masuk televisi. Aku tidak tahu apa mereka juga akan datang ke rumah sakit, mungkinkah itu? Oh, jika iya, maka bisa saja aku akan ditanyai. Oh… menurutmu aku harus bagaimana? Aku sering gugup jika ditanyai oleh orang asing.”

Aku tersenyum kecil. “Kau suka kue? Aku membelinya tadi.”

“Boleh saja. Ah… begitu rupanya. Ternyata pria itu menceritakan pada polisi di mana lokasi penyimpanan barang terkutuk itu. Ah… ternyata ia orang baik. Ia membantu polisi, Safina. Hebat sekali. Tapi akhirnya mati dibunuh oleh komplotan penjahat itu. Oh… lihatlah Safina…! Itu rumah sakit kita! Ah… mereka sudah datang pagi ini rupanya. Oh… tidak, kau lihat itu, Yani genit sekali… oh… aku tidak tahu kalau wartawan datang! Padahal aku yang menerima pasien itu. Ia adalah pasienku! Ah… menggemaskan sekali. Safina… cepatlah kemari. Kau akan ketinggalan berita ini. Kau tidak boleh melewatkan momen Yani mempermalukan dirinya sendiri. Oh… dia itu, apa dia tidak sadar kalau ia di depan kamera? Ia memperburuk citra dokter muda saja… ah….! Coba kalau aku yang ditanyai…”

Kubawa nampan ke ruang duduk. “Kau bersemangat sekali. Katanya kau lelah.”

Silla mengedip lucu. “Kau tahu aku. Ah, kau benar-benar melewatkannya. Beritanya sudah habis.” Silla menekan tombol merah di remote control. “Sekarang, mari kita makan!”

 

SELESAI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Menulis adalah kutukan

I. Fadilah

Since March 07, 2015

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: