dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Emma (Happy Birthday, Jo!)

IMG_20140213_202651Matahari hampir terbenam, sinarnya tak lagi terik dan menyilaukan mata, namun aku terlanjur enggan melepas kacamataku. Kulirik Emma yang memang sejak awal bersikeras untuk tak menggunakan benda yang menurutnya membuatku terlihat seperti belalang yang bodoh; ia menaruh mendatar tangan kirinya di atas alis, kedua mata menyipit.

“Indah sekali.” desisnya.

Aku mengiyakan dalam hati. Mengangguk. Meski tentu saja kami berdua setuju dalam dua hal yang berbeda. Seperti biasa, Emma bisa membaca isi hatiku.

“Aku bicara tentang sunset ini.” ia berdecak gemas.

“Aku bicara tentangmu.” aku tak bosan mencandainya.

Ia tak menggubris lagi. Perlahan ia menurunkan tangannya. Matanya juga sudah tak lagi membentuk garis seperti tadi. Aku bisa melihat binar jingga yang bercermin di bola matanya yang jernih. Perlahan wajahnya melunak dan senyumnya terbentuk.

“Indah sekali…” ia seperti akan menangis.

Mau tak mau aku mengalihkan pandanganku. Jika terlalu lama memandanginya seperti tadi, aku tidak akan mampu melakukan hal yang sudah aku rencanakan sebelum kepergian ke pantai ini.

Harus kuat. Aku menyemangati diriku sendiri.

Kini matahari sudah benar-benar tenggelam. Langit berpendar dengan warna merah jingga yang menyemburat kemana-mana. Emma seperti tersihir. Aku bahkan sempat tak yakin ia bernafas saat ini. Ia diam saja. Sampai kemudian kulihat ia memalingkan wajahnya. Rambutnya berkibar-kibar ditiup angin senja.

“Kau bilang ingin mengatakan sesuatu padaku. Apa itu?”

I love you.”

Emma melempar segenggam pasir padaku. Lalu kembali memandangi laut. “Seriuslah.”

Aku berdehem kecil, bangkit dari dudukku. Mendekatinya. Ia tampak mengerti dan menggeser posisinya dari batu besar yang sedang ia duduki.

Aku tidak berhenti untuk duduk di sana. Hanya berdiri. Beberapa saat kami berdua hanya diam. Memandangi langit yang temaram.

“Aku — ingin mengucapkan selamat tinggal.” Bisikku lirih.

Meski angin memang kencang berhembus, senja sore itu tidaklah sejuk. Hal itu membuatku yakin bahwa leherku yang meremang saat ini disebabkan oleh hatiku yang kembali terluka. Kukuatkan diriku untuk kembali berkata. Dengan suara yang lebih terang. “Aku menerima tawaran untuk bekerja di cabang sekolah yang baru dibuka di Palangkaraya. Kurasa ini benar-benar baik untukku. Bayarannya empat kali lipat dari cabang yang sekarang. Hanya saja aku tidak bisa keluar sampai tiga tahun kedepan.”

Dari balik kacamataku aku melirik Emma. Ia bergeming. Memeluk lututnya. Pandangannya terpaku jauh ke seberang sana, mungkin lebih jauh lagi. Aku tak tahu.

“Besok pagi aku berangkat.” Suaraku tercekat.

Langit benar-benar sudah temaram. Emma masih tak memberikan tanggapan atas ucapanku. Aku mulai sedikit risau.

“Kau sudah selesai?” akhirnya, ia bicara. Suaranya terdengar serak.

Aku diam. Tak tahu harus memberi jawaban apa.

Emma bangkit dari duduknya. Tanpa melihat ke arahku ia lalu berlalu. Dengan kaki telanjangnya ia menapaki tepian pantai yang basah. Tangan kanannya menjinjing sendalnya, sementara sebelah tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Aku bisa melihat jejak kakinya yang membekas sebentar di sana, sebelum hilang tersapu gelombang yang datang bergulung-gulung.

*****

“Ya, nomor 25B. Saya akan menunggu di bawah.”

Aku menutup telepon dan membuang nafas berat. Memandang berkeliling.

Aku baru saja selesai berkemas. Kuseret langkahku menuju kamar mandi, menatap cermin yang menempel setinggi dinding. Aku hampir tak mengenali sosok di seberang sana.

Lingkaran hitam di bawah mataku tampak jelas meski telah coba kusamarkan dengan menggunakan kacamata. Kurapatkan jaket yang sedang kukenakan. Melangkahkan kaki mendekati cermin. Berhenti tepat di depannya. Kusentuhkan dahiku di sana. Tersenyum sejenak. Untuk sesaat aku merasa tak sendirian. Kubentangkan kedua tanganku hingga mencapai batas kedua sisi cermin itu. Menempelkan jemariku di pinggirannya. Menelusurinya. Aku tahu aku akan menemukannya. Sepotong amplop kertas yang menempel erat di belakangnya. Aku meraba isinya. Menariknya keluar.

Happy birthday?” demikian bunyi yang tertulis di sana.

Mau tak mau aku tertawa.

*****

“Ini adalah hadiah ulang tahunmu.”

Aku hampir tak percaya. Menatap Emma yang tersenyum lebar bukan main. Sepertinya ia sangat senang melihat keterkejutanku. Di luar, aku bisa melihat Siska, temannya; sedang menunggu tak sabar.

“Kau tak menyangka bukan?”

Aku diam sejenak. Bingung harus berkata apa. “Huh?”

“Kau senang?”

Aku memalingkan wajah padanya. “Kau meminjam kunci kamarku untuk memasang ini?” tanganku terbentang pada benda di depanku.

Emma tertawa pelan, lalu ikut berdiri di sampingku. Menatap ke arah mataku memandang. “Kau tak menjawab pertanyaanku.” Ujarnya lirih.

Aku melangkah mendekat, memastikan mataku tak sedang berbohong. Emma telah memasang cermin di dinding kamar mandiku. Dinding yang berada di depan kamar mandiku, lebih tepatnya begitu. Tingginya mencapai langit-langit. Keningku berkerut.

“Mengapa kau memberikan ini padaku?”

Emma mengangkat bahu. Ia kemudian duduk di atas tempat tidurku. Untuk kemudian bangkit lagi. Ekor mataku menangkap ia mengangguk pelan dan seperti meminta Siska untuk menunggu sebentar lagi. Ia kemudian kembali berpaling padaku. “Aku ingat kau mengatakan bahwa kamar mandimu terasa terlalu sempit. Cermin bagus untuk memberikan kesan luas. Kurasa aku membacanya di suatu majalah.”

Aku menggeleng. “Kau baru saja membuat alasan itu.”

“Huh?”

“Katakan alasanmu yang sebenarnya.”

Emma tersenyum kecil. “Kau ingin tahu alasan yang sebenarnya?”

Aku mengangkat alis sebelah. Bertolak pinggang padanya.

*****

Tiga tahun yang lalu kami bertemu.

Aku sedang giat-giatnya lari. Lari pagi. Lari sore.

Lari dari kenyataan, beberapa teman sekantorku mengatakan demikian.

Meski tidak sepenuhnya benar, aku mengiyakan saja. Lagipula lari memang membuatku lupa sejenak akan duniaku yang terasa menghimpit saat itu. Aku menikmati setiap langkah yang kulemparkan setiap kali berlari. Aku bisa membuang setiap umpatan dan makian dalam setiap hela nafas yang kutarik saat berlari. Aku merasa bebas. Hingga saat kudapati sepatu lariku jebol, dengan tak membuang waktu aku langsung mencari penggantinya setelah aku pulang dari kerja hari itu juga.

Di sana aku bertemu Emma. Ia sedang bekerja paruh waktu.

“Ingin mencari sepatu seperti apa?” aku ingat ia bertanya demikian ketika aku berkeliling di rak-rak yang memajang sepatu lari.

Aku sebenarnya tak suka didampingi saat memilih sesuatu. Membuatku merasa dinilai. Setiap pilihanku bisa terasa buruk. Kucoba untuk tidak mempedulikannya. Namun ia terus mengekorku.

“Bisakah aku melihat yang itu?” asal-asalan aku menunjuk sepasang yang berwarna biru.

Kulirik ia tersenyum. “Bukan untukmu?”

Huh?

Emma kemudian mengambil sepatu yang tadi kutunjuk. Menyodorkannya di depan wajahku. “Ini sepatu perempuan.”

Kurasakan darah mengalir meninggalkan wajahku dan kembali dalam jumlah tiga kali lipat. Aku berdehem. Menunjuk sebelahnya. “Maksudku yang itu.”

“Itu sepatu banci.”

Aku ternganga dan berpaling padanya. Ia hanya tertawa kecil dan melambaikan tangannya perlahan. “Aku bercanda. Kau serius sekali.”

Aku tidak pernah bertemu seorang penjaga toko yang bersikap seperti Emma. Belakangan baru kuketahui bahwa ia adalah anak sang pemilik toko. Ia sedang dihukum untuk bekerja di sana.

“Akan kubawakan cermin agar kau bisa melihatnya dengan lebih baik.” Ia berkata demikian saat aku sedang mencoba sepasang yang akhirnya kurasa cocok.

Ia datang dengan cermin setinggi lutut dan menaruhnya di depan betisku. Aku melongok dan menggeser-geser kakiku. “Kurasa ini lumayan.”

Emma menggeleng.

Aku berpaling padanya.

“Jika kau mau mengatakan sepatu apa yang ingin kaucari, kita bisa menghemat banyak waktu sekarang.”

“Hei, tidak ada yang memintamu untuk berdiri di situ.” Tanpa bisa kutahan kalimat itu keluar dari mulutku. “Maaf, aku tidak bermaksud kasar.”

It’s okay. Kau yang ingin membeli sepatu, bukan aku. Namun aku tetap berpendapat bahwa kau harus memutuskan sepatu seperti apa yang akan kau beli sebelum kau memilih.”

“Aku akan memilih sambil jalan.”

“Kau tidak punya pilihan khusus?”

“Aku punya.”

“Lalu?”

Aku berpaling dengan gusar padanya. “Aku ingin melihat-lihat. Jika ada yang cocok dengan keinginanku, akan kuberitahu.”

Emma mengangkat kedua tangannya di depan dadanya. “Wow. Kau benar-benar kesal.”

Aku diam dan hanya memandanginya.

Okay, aku minta maaf jika terlalu cerewet padamu. Kukatakan padamu bahwa aku bukanlah pekerja di sini.” Ia mengangkat tangan menyuruhku diam saat melihatku akan bicara. “Aku sedang dihukum oleh ayahku — dia pemilik toko ini, dan hukumanku akan selesai jika aku berhasil melayani satu pembeli lagi untuk hari ini. Kau yang terakhir kuharap. Bisakah kita saling membantu?”

Aku menggeleng. “Aku tidak tahu kenapa itu bisa jadi urusanku.”

Ia menjulurkan tangannya. “Emma.”

Mau tak mau aku menerima tangannya.

Ia lalu menarik tanganku dengan sigap, genggamannya hangat. Ia mengajakku mendekati sebaris rak yang belum sempat kulihat. Menunjuk pada sepasang sepatu di sana. “Kurasa ini akan cocok untukmu.”

Aku mengernyit. “Huh?

“Kau mencari sepatu untuk lari bukan? Melihat dari ukuran otot betismu, kau baru saja mulai untuk lari, kau masih belum punya cara lari yang benar sehingga sering merusak sepatumu sendiri pada akhirnya. Kau butuh sepatu yang kuat. Bukan hanya enak dilihat.”

Aku menatapnya dari ujung rambut hingga sepatu yang ia kenakan. “Kenapa kalian para wanita harus selalu seperti ini?”

“Menawarkan yang tidak dibutuhkan?” Emma tertawa tertahan. “Percaya yang kukatakan. Hipotesaku jarang salah.”

“Kau sekarang detektif?”

Emma berkacak pinggang di depanku. “Mengapa kau selalu berpikir seperti yang orang lain katakan? Cobalah untuk berpikir sesuai dengan apa yang ingin kau lakukan.”

Aku sampai ternganga. “Sorry?

“Kau barusan bicara tentang para wanita,” ia menekankan dua kata terakhirnya, “Padahal yang kau lakukan hanyalah mencocokkan tingkah lakuku dengan sesuatu yang pernah kau baca atau dengar dari suatu tempat. Kemudian saat aku mengatakan pendapatku sesuai dengan apa yang kulihat darimu, kau langsung menilaiku berlagak detektif. Maksudku, kau berpikir terlalu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh arus. Too mainstream.

Aku menggelengkan kepala. “Kau tahu, lupakan saja. Aku akan mencari sepatu di tempat lain.”

“Dan kau sangat gampang merajuk.”

Aku batal membalikkan badan. “Hei. Aku tidak ingin bertengkar.” Aku merendahkan suaraku, melihat berkeliling. Untunglah tidak ada yang memperhatikan.

Emma mengangkat sepatu yang tadi ia tawarkan. “Mari kita coba?”

Aku menghela nafas dalam. Menyerah.

Ia kembali memajang cermin di depan betisku. “Kau punya betis yang bagus.”

Aku mengangkat wajah padanya. “Kau benar-benar tidak berbakat untuk menjadi penjaga toko.”

Ia hanya tertawa. Aku merasa aneh karena merasa senang mendengarnya tertawa. Mengalihkan pandangan darinya, aku memusatkan pandanganku kepada bayangan di cermin. “Tapi harus kuakui sepatu pilihanmu benar-benar cocok untukku.”

*****

 “Aku tak mengerti.” Aku melangkah keluar dari kamar mandi.

“Aku ingat saat kita pertama bertemu, kau baru mengakui bahwa sepatu pilihanku bagus ketika kau sudah melihat sendiri lewat cermin.” Emma melangkah mengelilingi ruangan, seperti mengukur luasnya kamarku. Kemudian ia duduk di atas kursi yang kuletakkan di depan meja tulis.

Aku menyandarkan tubuhku di dinding kamar. Menunggunya kembali bicara.

“Kau itu butuh sudut pandang lain untuk bisa berpikir lebih jernih. Hingga kuputuskan bahwa cermin sebesar dosa ini akan membantumu.”

Tawaku pecah. “Benarkah?”

“Ya, dengan begitu setiap pagi kau bisa melihat dirimu dengan lebih baik. Dengan begitu kau akan jadi orang yang lebih baik lagi setiap harinya.”

Aku menunjuk diriku. Lalu ke cermin. “Wow. Kau melihatku separah itu hingga butuh bantuan dari sebuah cermin?”

Emma mengangguk. Siska mengetuk pintu dengan wajah tak sabar. Ia bahkan tak memandang padaku. “Kita bisa pergi sekarang?”

Emma mengangguk padanya, lalu padaku. Ia kemudian mengemasi tasnya.

“Aku pulang. Ayahku tak akan suka jika tahu aku kembali menemuimu.”

Aku mengangkat bahu. “Sampaikan salamku padanya.”

Emma hanya tertawa. Sesaat sebelum melewati pintu ia membalikkan tubuh dan berkata. “Happy birthday, Jo.”

*****

Kuseret travel bag-ku menuruni tangga. Aku terlalu malas untuk mengangkatnya. Kusurukkan tangan kiriku ke dalam saku jaketku, memastikan tiket pesawatku ada di sana.

Tanganku malah meraba sesuatu yang lain.

Kutarik tanganku keluar.

Undangan.

*****

“Ayah tak suka jika aku masih menemuimu.”

Kami sedang duduk di bangku kafe di depan taman sore itu. Sehabis lari. Aku lari. Ia baru pulang dari kampus.

Aku mengangkat wajah dari buku yang sedang kubaca. Emma sedang memberikan tatapan mautnya.

Mau tak mau aku menutup bukuku.

“Katakan sesuatu yang belum kuketahui.”

“Aku serius, Jo.”

“Jangan menemuiku kalau begitu.”

Emma terperangah, ia menarik bahunya dan bersandar di kursi. Keningnya berkerut.

Aku menahan senyum. “Aku yang akan menemuimu.”

Emma memicingkan mata. “Seriuslah.”

Aku mengangkat tangan, meminta maaf.

“Kali ini apa yang ia keluhkan?”

Emma memutar-mutar sendok di dalam gelasnya. Oh, aku tak suka gestur itu. Ini lebih buruk dari yang kukira.

“Dia ingin aku untuk menikah.”

Deg.

“Kautahu dengan siapa?” Emma berkata lirih.

Pikiranku mendadak kosong. Namun aku berusaha untuk terlihat tenang. “Umh… seseorang yang bukan sedang berada di hadapanmu?”

Emma bertepuk tangan kecil. Namun ia tak tersenyum.

Aku masih berusaha mencerna yang ia katakan barusan. Atau apa yang akan aku katakan padanya. “Wow.” Tapi hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Emma masih memutar-mutar sendoknya. Ia bicara namun tak memandangiku. Seperti tak menyukai yang akan ia katakan, namun harus segera ia ungkapkan. “Tadi malam ia mengajakku bicara setelah makan malam. Menanyakan tentangmu. Menanyakan tentang kita.”

“Kalian bertengkar lagi?”

Emma memberengut. Lalu menggeleng. Masih tak menatapku. “Ayahku sedang tidak dalam kondisi sehat. Aku tidak akan bertengkar dengannya.”

Aku mendengus pelan. Emma melempar pandangan tak suka.

“Dia ayahku, Jo.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu itu salah satu alasan ayah tak menyukaimu. Kau tak pernah menyukainya.”

Aku tertawa pelan dan berkata. “Ayahmu yang tak pernah menyukaiku sejak awal. Itu intinya. Ia bahkan tak pernah berusaha.”

Emma berdehem pelan. “Rendahkan suaramu.”

Aku mengangkat tangan, meminta maaf.

“Aku hanya tak suka saat kau mengatasnamakan kondisi ayahmu yang sedang sakit. Kita akan memulai pembicaraan ini dengan tidak adil.”

“Adil?” Emma mengerutkan kening. Kali ini ia memperhatikanku.

“Apapun keputusan yang akan kita ambil saat ini, semuanya tidak akan mengubah keputusan ayahmu, dan kau terlalu takut untuk menentangnya, karena ia sedang sakit.”

“Aku tidak mengatakan kita akan memutuskan sesuatu. Aku sedang memberitahumu tentang sesuatu. Dan bisakah kau bicara lebih pelan?”

“Aku tidak pernah suka pada ayahmu karena ia tak pernah adil menilaiku.”

“Demi Tuhan. Ia bukan Tuhan, Jo. Kau berharap ia seadil apa?”

Aku terdiam. “Ia tidak pernah suka pekerjaanku.”

“Ia tak suka pekerjaan tiga orang pacarku yang sebelumnya juga. Ia tidak pernah suka setiap pekerjaan kecuali arsitek, atau dokter. Ia tak suka pekerjaannya sendiri. Jangan tanyakan aku mengapa. Ia bahkan tak menyukai jurusan kuliahku. Cobalah untuk mengerti.” Emma terdengar kesal.

Aku mendengus sekali lagi. “Itu yang kumaksudkan dengan tidak adil. Mengapa ia harus membuatmu terbatasi seperti ini? Kau orang paling waras yang pernah kukenal. Namun kau belakangan sama sekali tak sama. Aku kecewa padamu.”

Suara Emma bergetar ketika akhirnya ia berkata sambil menatap nanar padaku. “Ia ayahku, Jo.”

“Kau mencintaiku?” aku mencondongkan tubuhku padanya. Mencari jawaban di dalam matanya.

Emma menatapku tajam. “Tidak saat ini.” Suaranya masih terdengar gemetar.

Aku menarik tubuhku. Tidak ada gunanya bertengkar dengan Emma, karena pada ujungnya aku juga yang akan terluka. Aku berusaha untuk mencari pertanyaan lain. Yang keluar justru. “Lalu dengan siapa ia ingin kau menikah?”

Emma seperti tak menyangka aku akan menanyakannya, ia mengangkat bahu. “Ia akan mengenalkanku padanya besok lusa saat akhir pekan.”

“Dan ia ingin kau menikah?”

“Dan ia ingin aku menikah.”

“Menikah?” tak bisa kutahan suaraku terdengar sinis.

Emma menatapku tajam sekali lagi. Ia lalu meminum habis isi gelasnya. “Kurasa aku salah memilih waktu untuk bicara denganmu sekarang. Kau sedang tidak bisa diajak bicara dengan tenang.” Ia lalu mengemasi tasnya. “Kabari aku jika kau siap untuk bicara.”

Aku tertawa getir. “Sekalian saja saat aku siap untuk menerima undangan pernikahanmu.”

Emma menatap sedih padaku. Sorot matanya terluka. “Ini bukan hanya tentangmu, Jo. Kau tahu itu.”

Selepas itu ia pergi.

*****

Aku menekan nomornya yang begitu kukenal. Menunggu beberapa saat sampai kudengar suaranya. “Jo?”

“Hai.” Suaraku tercekat. Kuharap di seberang sana akan terdengar biasa saja.

“Kau sakit?”

Aku mendengus pelan. “Tidak. Hanya sedikit batuk. Maksudku, aku tidak apa-apa.”

Hening sejenak.

“Oh. Okay.

Aku berdehem pelan, mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan.

“Ada apa?” Emma bertanya lagi.

“Umh. Aku menerima undanganmu. Umh. Terimakasih.”

Hening. Lebih lama dari sebelumnya. “Aku minta maaf karena tidak menanyakan padamu sebelumnya. Kuharap kau tidak tersinggung.”

Aku menggeleng lebih cepat dari yang kuinginkan. “Aku ingin mengucapkan selamat.”

Gemerisik. “Terimakasih.”

“Tapi aku juga minta maaf, kurasa aku tidak bisa datang.”

Gemerisik lagi. Lalu hening. “Ah.”

Aku mengangguk-angguk. “Umh. Bisakah kita bertemu sore ini? Di pantai. Cuacanya cerah sekali. Aku ingin mengajakmu melihat matahari terbenam.”

“Jo…?”

“Ada yang ingin kukatakan padamu.”

***** selesai *****

4 thoughts on “Emma (Happy Birthday, Jo!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Sebuah Panggilan: Menulis

Escanaba Ship

Since March 07, 2015.

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: