dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Birth

bunga 06Happy birthday…!!!!”

Aku hampir berteriak saking terkejutnya. Padahal teriakan itu sama sekali bukan untukku. Dengan riang aku meletakkan pena dan kertas. Laporan Fisiologiku sejenak kulupakan.

Teriakan itu buat Artika. Hari ini dia berulang tahun. Sebenarnya sebelum masuk tadi Erni sudah mengatakan bahwa akan ada acara kejutan. Tapi tetap saja aku ikut terkejut.

Artika sendiri bisa kulihat sangat terkejut. Betapa tidak, ia baru saja masuk kelas. Dan sekarang wajahnya penuh dengan serbuk-serbuk kertas berkilat yang tentu saja lengket. Lucu. Aku jadi tersenyum.

“Ayo… bawa kuenya kemari…” teriak Erni.

Filia datang membawakan kue ulang tahun yang sangat cantik. Di atasnya ada lilin dengan angka 19. Wah, senangnya. Aku segera bergabung dengan kerumunan.

“Selamat ulang tahun… kami ucapkan… selamat…” dengan segera nyanyian khas ulang tahun itu bergema mengisi kelas F.

“Apa-apaan sih?!!”

Seketika itu juga kelas hening. Tidak ada yang bersuara.

“Kalian keterlaluan…” Artika berkata perlahan. Wajahnya terlihat sedih. Air matanya mengalir perlahan.

“Kalian jahat…!!!” detik berikutnya terdengar suara pintu menutup dengan keras setelah Artika keluar melewatinya.

*****

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam…” Wajah Paman keluar dari ruang memanggang kue. Ia langsung tersenyum lebar. “Hai. Kau sudah pulang? Syukurlah. Aku harap kau bisa membantu dengan segera.”

Aku tersenyum. “Oh ya? Wah, sepertinya ini hari yang sibuk.” Kulepaskan sepatu, menggantinya dengan sendal jepit. “Dita ganti baju dulu. Setelah itu Paman pasti Dita bantu.”

“Ya. Cepatlah.” Teriak Paman. Aku jadi tersenyum lagi.

“Oh ya. Tadi ada surat dari Ayahmu. Aku meletakkannya di atas meja makan.”

Aku mengangguk. Wah, surat dari Ayah. Ada kabar apa ya dari kampung? Dengan bersemangat aku menuju dapur. Kuambil surat yang tadi dikatakan Paman. Di dalam kamar aku membacanya.

“Ada kabar apa?”

Wajah Paman tiba-tiba muncul. Aku memang tidak menutup pintu kamar. Tapi tak urung aku sedikit kaget. “Ha? Oh. Tidak ada yang luar biasa.” Kuteliti lagi lembaran surat di tanganku. “Ayah mengatakan kalau ia belum bisa mengirim uang untuk bulan ini. Musim panen tertunda karena musim yang tak baik. Ada hama juga kata Ayah.”

Aku bisa melihat kalau Paman terdiam sesaat, kemudian ia berkata, “Kau bilang kalau sekarang ini sudah mau semester berikutnya. Bukannya kau harus bayar uang kuliah?”

“Ha? Oh. Paman tidak usah cemas. Alhamdulillah, Dita masih punya tabungan. Beasiswa yang kemarin. Bukannya sudah Dita ceritakan?”

Paman mengangguk-angguk lemah. Keningnya berkerut. “Ah, sayang sekali jika kau harus menggunakan uang tabunganmu. Tapi… aku juga tidak punya simpanan uang. Bagaimana ya?” sekarang Paman menggaruk kepalanya.

Harus kuakui dadaku sedikit menyesak sekarang. Mataku juga terasa menghangat. Tapi kutahan. Buru-buru aku menyimpan surat dari Ayah. “Sudahlah Paman. Bukankah itu gunanya kita punya tabungan? Untuk dipakai ketika sedang butuh? Dita sendiri justru kasihan pada Ayah, pasti ia sedih karena tidak bisa memanen sawahnya.” Aku lalu berdiri. “Yuk. Katanya Paman tadi perlu bantuan. Dita siap membantu sekarang.” Kucoba untuk mengembangkan senyum termanisku.

Tiba-tiba aku mengendus bau hangus. “Aduh. Bau apa ini? Bukannya Paman sedang memanggang?”

Wajah Paman langsung berubah drastis. “Hoo…?” mulutnya membulat. “Aduh!? Aku lupa! Aduh! Apa yang terjadi dengan kueku… aduh… sialnya…” dengan setengah berlari ia keluar dari kamar. Mau tak mau aku yang melihatnya jadi tertawa.

Meski saat aku keluar dari kamar, aku merasa dadaku kembali menyesak. Akankah semua baik-baik saja?

*****

“Kembaliannya seribu dua ratus ya.” Aku mengangsurkan sejumlah uang seperti yang kusebutkan. “Terima kasih.”

“Terima kasih kembali.” Jawab ibu berkaca mata yang kulayani itu. Ia tersenyum. “Ayo Dedek… pulang. Bilang apa kalau mau pulang?”

Aku melongok ke seberang meja kasir, seorang bocah berumur sekitar enam tahun menatapku dengan matanya yang membulat. “Hai.” Aku mencoba menyapanya.

Assalamu’alaikum. Pulang dulu kakak.” Ia membalasku. Sepertinya ia mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya.

“Wah. Pintarnya. Sudah bisa bilang salam. Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan. Bundanya dijaga ya…” aku melempar senyum padanya. Lalu berpaling pada Ibu tadi. “Hati-hati, Bu.”

Ibu tadi mengangguk seraya tersenyum. Dengan lembut ia menuntun putranya tadi menuju pintu keluar.

Senangnya… aku mendesah dalam hati. Untuk kemudian aku kembali menekuni diktat Biokimia yang sengaja kubawa dari kamar untuk kubaca saat tidak ada pembeli.

*****

“Dita… lima belas menit lagi tutup. Perhatikan siapa yang masuk. Ha? Kau mau ujian ya?” Paman tiba-tiba muncul di sebelahku. Ia mengambil diktat yang menumpuk di bawah meja. “Wah. Kenapa kau tidak bilang. Kalau tahu begini aku akan menyuruh Salim…”

“Paman. Dita nggak ada ujian kok. Cuma baca-baca aja. Jadi ntar kalau ujian nggak terlalu repot. Lagian daripada bengong.”

“Paman. Aku pulang dulu. Besok aku mungkin akan terlambat sekitar setengah jam. Ada kuliah tambahan.”

Obrolan kami terputus. Yang tadi bicara adalah Bang Indra. Ia kerja paruh waktu di toko kue Paman ini. Kalau tidak salah sekarang ia sudah semester 5.

“Ha? Setengah jam? Kau gila. Lalu siapa yang akan kusuruh kerja?” Paman memasang tampang bodoh. Aku dan Bang Indra serempak tertawa.

“Dita besok tidak kuliah. Dosennya berhalangan. Jadi besok Dita bisa membantu Paman seharian.” Tukasku.

“Terima kasih.” Bang Indra mengacungkan jempolnya padaku. “Sudah dulu Paman. Dapur sudah aku bereskan. Aku pulang ya. Assalamu’alaikum.

Wa’alaikum salam…

Paman masih melongo. “Ha? Hhh…” pada akhirnya ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Aku bangkit dari dudukku. “Sudah hampir jam sepuluh. Sudah tidak ada lagi pembeli yang makan. Kita tutup lebih awal saja ya Paman?”

“Oh. Ya. Tutup saja. Seharian ini benar-benar ramai. Kalau seperti ini terus, aku akan segera punya tabungan yang banyak. Kau tidak perlu lagi takut memikirkan uang.”

Aku hanya tersenyum kecil. Dengan menahan kantuk aku menuju pintu masuk. Untuk kemudian aku tertegun melihat seseorang yang datang. “Eh?”

“Eh? Dita?”

Ternyata Artika. Aku sedikit bingung harus bersikap bagaimana. Untunglah Paman datang. “Sudah mau tutup.”

Artika terlihat kecewa. “Oh. Ya…?”

Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja mulutku berucap. “Tika dari mana aja? Jam segini? Duduk dulu deh.” Lalu aku berpaling kepada Paman. “Tutupnya bentar lagi ya Paman. Kan masih belum jam sepuluh, hehe.”

“Eh?” Paman tampak kebingungan. Tapi ia akhirnya mengangguk.

Aku membawakan secangkir es krim vanilla dan brownies untuk Artika.

“Silakan.”

Artika memandangku dengan tatapan menyelidik. “Kamu kerja di sini?”

“Oh. Ya. Aku bekerja di sini. Toko ini milik Pamanku. Sejak awal masuk hingga semester dua sekarang aku sudah di sini. Bantu-bantu gitu deh. Kadang Paman menggajiku, tapi kadang dia suka lupa, hihi.” Aku tersenyum kecil. Paman memang kadang sangat ceroboh dan sedikit bloon. “Tapi dia baik. Dia adik ayahku.”

Artika menatapku. Tapi tidak ada suara dari mulutnya.

“Kuenya dimakan.” Aku mengangsurkan kue kepadanya.

Artika menghela nafas. “Tadi pagi… maaf banget ya.”

“Oh. Nggak papa lagi.” Aku mencoba tersenyum. “Tapi tadi kita memang sempat kaget. Nggak nyangka aja kalau… ya…” aku tidak meneruskan kalimatku. “Ngomong-ngomong, Tika dari mana?”

Tiba-tiba saja Artika menangis. Ia menjatuhkan wajahnya ke atas kedua telapak tangannya. Ia menangis terisak-isak. Aku jadi bingung.

“Tika…? Tika…? Kenapa? Ada apa?”

Artika mengangkat wajahnya. “Kamu pasti nggak ngerti. Nggak ada yang pernah ngerti. Dari dulu sampai sekarang… nggak ada yang pernah ngerti… hiks…”

Aku menggigit bibir. “Ya udah. Tika tenang dulu ya. Aku mau tutup pintu dulu. Soalnya sudah waktunya tutup. Tika di sini aja… ya?”

Saat aku kembali, Artika sudah tidak menangis lagi, ia hanya menyisakan sesenggukan yang masih terdengar jelas.

“Kuenya dimakan dong. Esnya juga, ntar mencair.” Aku mengingatkan.

“Makasih…” Artika menyenduk esnya. “Enak…”

“Oh ya?” Aku tersenyum lebar. “Itu es krim andalan toko ini. Namanya aja sih toko kue, tapi di sini bisa makan es krim juga. Semua bikinan sendiri.”

Artika mengangguk-angguk. Aku tidak tahu apa itu karena ia mengerti ucapanku atau karena ia masih sesenggukan bekas menangis.

“Dita… pulang dulu ya…” Bang Salim dan Bang Edo keluar dari pintu samping. Mereka juga bekerja sambilan. Aku mengangguk sebagai jawaban.

Assalamu’alaikum.” Ternyata mereka masih tahu salam.

Wa’alaikum salam.” Aku tersenyum. Selama hampir satu tahun ini, aku jadi lebih dekat dengan orang-orang yang bekerja sambilan di toko. Meskipun mereka sibuk, tapi tetap bersemangat untuk memanfaatkan waktu luang yang mereka miliki.

“Aku tidak bisa pulang.” Kata Artika tiba-tiba.

Aku berpaling padanya. “Kenapa?”

“Jam segini pintu pagar kostku sudah ditutup dan tidak akan dibuka lagi.”

“Oh. Begitu. Ya sudah, tidur di sini aja. Di kamarku ya. Masih muat kok. Kebetulan kan, besok tidak ada kuliah, jadi tidak perlu buru-buru.”

Artika terdiam. Ia masih saja menatapku dengan tajam. “Terima kasih ya.”

“Sama-sama.” Aku tersenyum. Kuperbaiki kerudung yang kukenakan. “Masih mau esnya?”

Artika menggeleng.

“Aku sih mau aja. Biasanya Paman suka membuat lebih. Jadi aku akan memakannya sebelum tidur, hihi.” Aku bangkit dari duduk. “Atau mau kue yang lain? Nanti aku buatkan. Tika sudah makan malam?”

“Kita bisa ngomong sebentar…?”

*****

“Waktu itu ulang tahunku yang ketigabelas. Ibuku mengatakan kalau ia akan membuat suatu pesta sederhana untukku. Aku senang sekali. Sebab ibu bilang kalau itu juga sekalian selamatan karena nilai raporku yang baik. Aku pergi ke sekolah dengan hati yang luar biasa senang. Berbunga-bunga. Teman-temanku banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun.” Artika menghela nafas panjang. “Itu benar-benar saat yang tak terlupakan. Benar-benar bahagia. Kamu ngerti?”

Aku hanya memberikan senyumanku. “Lalu?”

“Tapi betapa kagetnya aku ketika aku pulang kerumah, tidak ada kejutan untukku. Aku justru terkejut karena tidak ada yang bisa mengejutkanku di hari ulang tahunku. Ibu bilang kalau ia pusing, kepalanya sakit. Ia tidak bisa pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan pesta yang ia janjikan.”

Aku merasakan dentuman keras dari jantung yang menghantam dinding dadaku.

“Aku marah. Marah sekali. Kecewa sekali. Ibu telah berjanji padaku. Aku menangis dan menangis. Aku tidak mau makan. Aku mengurung diri di kamar. Beberapa saat aku masih mendengar ibu memanggil-manggil namaku menyuruhku keluar. Aku tidak mau. Ibu terus menyebut namaku dan meminta maaf. Aku tidak mau memaafkannya. Aku kecewa padanya. Entah mengapa, tapi saat itu aku merasa ibu tidak sayang padaku. Ibu terus mengetuk pintuku. Aku tidak mau membuka pintu. Aku tidak mau.”

Aku melihat kalau mata Artika kembali berair. Aku sendiri turut sedih sekarang.

“Lama sesudah itu, aku hanya mendengar kesunyian. Tak kudengar lagi suara ibu yang memanggilku. Tak kudengar lagi suara ibu mengetuk pintu. Aku akhirnya tertidur di kolong tempat tidur. Aku tertidur dalam kemarahan kepada ibuku.”

Suara Artika makin lirih saat ia berucap. “Siang telah menjadi malam ketika aku terbangun karena perutku sakit. Padahal dalam mimpi aku telah sakit perut juga. Ibu memelukku dan memberiku obat. Tapi ternyata sakit perutnya benar-benar nyata. Maka aku memanggil ibu. Tapi suaraku tak ada. Suaraku hilang. Mungkin aku terlalu lama menangis dan berteriak hingga suaraku lenyap tak bersisa. Akhirnya aku keluar dari kolong tempat tidur. Mencari ibu. Dan…” Artika menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya makin keras.

“Dan…?” aku mencoba bertanya.

“Aku mendapati orang-orang membaca Yasin untuk ibuku… dia… dia meninggal…” Artika menangis sesenggukan. “Dia… dia… ibu… kecelakaan saat pulang dari pasar… dia ternyata pergi ke pasar akhirnya…”

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. “Ah…” Tak sanggup berkata-kata. Kurapatkan kursiku kepada Artika, kuelus punggungnya. Dapat kurasakan pundaknya bergetar dengan hebat.

“Aku mendapatkan bungkusan belanjaan ibu di dapur, ada hadiah untukku, ada bahan kue… sayur, rempah-rempah… terompet… lilin, pita… Hnggh…hngg..hh… semuanya berdarah… semuanya berdarah… hh…Hgg…ekh…” Artika bangkit dan memelukku. “Aku takut sekali… aku bingung… serasa masih mimpi… tapi ibu tetap saja tidak bangun-bangun…”

Aku mengelus rambut Artika. “Istighfar… astaghfirullahal’adzhim… Tika…? istighfar yuk…”

Aku bisa merasakan Artika menggeleng. “Aku tidak berani mendekati jenazah ibu… aku takut durhaka padanya… aku telah marah padanya… aku… aku… aku belum sempat minta… maaf… padanya… hnggh… hggnh… hngh… aku takut sekali… tubuhku gemetar… aku belum minta maaf pada ibu….”

“Tika… astaghfirullahal’adzim… istighfar… Tika…?” kuelus rambut Artika sebisaku. Akhirnya Artika beristighfar dengan pelan mengikutiku.

“Sejak itu, aku takut setiap hari. Sejak itu, aku tidak bisa bahagia pada hari ulang tahunku… ibu meninggal di hari ulang tahunku… kamu ngerti kan…?” Artika menarik wajahnya dari bahuku. Ia menatapku dengan wajah sembab. Ia menatapku dengan cemas. “Setiap tahun kenangan itu menghantuiku. Aku tak bisa memaafkan diriku…”

Aku mengangguk perlahan. Kucoba untuk terus mempertahankan kontak mata dengannya. “Mau minum? Aku ambilkan ya? Tika langsung ke kamar aja ya. Biar nanti airnya diantar ke sana.”

*****

“Apa yang kamu ngerti?”

Aku terdiam. Artika sudah lebih tenang sekarang. Tapi matanya masih terlihat sembab dan nafasnya tersengal-sengal.

“Apa yang aku ngerti?” aku mengulangi pertanyaan itu. Dengan perlahan aku menepuk bantalku. Meletakkannya di belakang punggung. Cukup lama aku diam sampai kemudian aku menatap Artika, “Ibuku meninggal saat melahirkanku.”

Artika menatapku seakan tak percaya dari balik selimut. Ia kemudian ikut duduk. Aku meneruskan ucapanku.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang hal ini. Aku juga tidak ingin membandingkan siapa yang lebih buruk keadaannya di antara kita berdua.”

Aku menarik lampu duduk untuk mengubahnya menjadi mode tidur. Ruangan jadi temaram sekarang.

“Kalau dipikir lagi, dada ini pasti akan sesak. Lalu air matapun mengalir tanpa tertahankan. Tapi mau gimana lagi? Memang sudah seperti itu yang terjadi.”

Artika hanya memandangiku dengan wajah sedih. “Aku…”

“Ssst… sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Tapi pernahkah kita benar-benar mengerti? Aku rasa tidak. Saat ini aku punya Ayah dan Paman yang begitu menyayangiku, aku harus memperhatikan mereka. Aku tidak boleh memikirkan apa yang aku tidak punya hanya karena orang lain punya. Aku tidak boleh iri pada orang yang punya ibu hanya karena aku tidak punya ibu.  Tapi… terkadang tetap saja kepikiran. Seandainya saja ibu ada bersamaku.”

Aku berpaling pada Artika. “Tika sudah beruntung karena pernah memiliki ibu. Merasakan kasih sayang ibu. Itu yang harus Tika ingat. Karena menurutku, seorang ibu pasti menginginkan anaknya bahagia. Ibu Tika pasti tidak pernah menginginkan Tika sedih seperti ini, apalagi di hari ulang tahun.”

“Apakah aku anak durhaka?” kata Artika tiba-tiba.

Aku menarik nafas dalam. “Setiap manusia pasti pernah bersalah. Dia akan menemukan kebenaran jika dia mau memperbaiki kesalahannya tersebut. Minta ampun pada Allah. Dia maha pengampun lagi maha penyayang. Berdoa dengan tulus ikhlas agar arwah ibu Tika bisa tenang.”

Artika menarik tanganku ke dalam genggamannya. “Makasih ya. Makasih banget.”

“Sama-sama. Makasih juga karena sudah mau cerita sama aku.”

“Kira-kira teman-teman pada marah nggak ya sama aku gara-gara tadi?”

“Nggaklah. Kita tadi mikirnya kamu takut sama kertas kilat. Kan memang ada yang phobia seperti itu, hihi.”

Kami berdua tersenyum. Lalu berpelukan. “Makasih ya.” Artika kembali berbisik.

Aku mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Semua karena Allah.”

Alhamdulillah.” Kata Artika. “Eh.” Ia tiba-tiba melepas pelukannya. Aku juga buru-buru melepaskan tanganku.

“Ini bau apaan ya?”

“Hmm… hmmph… ini bau…?” aku terus mengendus. “Astaga!!” aku sampai terloncat.

“Ada apa?!” Artika kaget.

“Bukannya tadi kita masak kue?!”

Kami serempak tertawa dengan keras. Ups. Jangan sampai Paman terbangun. Ntar ada masalah lagi, hihihi…

Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Sebuah Panggilan: Menulis

Escanaba Ship

Since March 07, 2015.

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: