dibuang [sayang]

my not so secret pensieve

Let It Rain

It was raining cats and dogs since early dawn. I woke up with sound of water dripping on my window-pane and like usual, I couldn’t help but smiling. I am always happy whenever it’s raining.

And as usual, rain always bring your worst memories. I think you all getting tired of this kind of flashbacks, LOL! No, I am serious. I am getting tired as well. It’s like I couldn’t get out of these past stories. Like someone’s addicted, I keep coming and coming and coming. [hmm, as I read it again, this sounds wrong, LOL!). It’s not cool at all.

But this morning I only dig into some papers. I read some of stories I’ve wrote couple years earlier. I couldn’t stop laughing when I found one which is a bit unusual. It’s more like an erotic story. God forgive me! ROTFLOL. And poetry. Since it’s raining, I decided to took some of poetry that I wrote when it’s raining or about rain itself.

I remember I wrote more than two. But I couldn’t find them so I will just post this two.

Is it raining in your place? Please remember me. :’)

Bulan Kehujanan
 
Senja mulai turun, tirainya merah jingga
Aku menatap kaca jendelaku yang berembun
Kucium bau tanah dan udara yang bercampur pada angin
 
Sudah genap seminggu aku tak melihatmu dari kamarku
Hujan tlah gantikanmu tuk sirami dedaunan bunga yang kautanam
Sesungguhnya aku rindu
 
Malam mulai pekat, menebar dingin
Aku mendengar kaca jendelaku yang berisik tertimpa air jatuh
Kiranya hujan turun lagi…
 
Bulan ini basah
Bulan ini penuh kehidupan
Tapi justru bunga di dalam hatiku yang mengering
Sesungguhnya aku rindu untuk melihatmu lagi
 
Aku terbangun pada akhir Desember
Menyusun kembali segenap sisa mimpi yang tersisa
Membuka tirai jendelaku yang lembab
Kuharap melihatmu pagi ini
Aku rindu melihatmu setiap hari
Sungguh
 
Pekanbaru, 2 January 2007 


Terkurung Hujan

Hujan yang tadinya rintik
Kini jadi deras
Aku terkurung hujan

Sudah seminggu ini hujan turun sejak petang hingga malam larut
Seharusnya kubawa payung
Hingga tak perlu aku terkurung begini
Sendiri

Aku ingat wajahmu tak ramah saat kita berpisah tadi
Mungkin memang aku yang salah
Tapi tak bisa kujelaskan kenapa aku justru membisu saat itu
Dan sekarang, kepalaku penuh dengan penjelasan
Sayangnya, aku terkurung hujan
Dan tak mungkin aku katakan sekarang padamu
Mungkin kau tlah tiba di rumahmu

Hujan yang dari tadi lebat di atas
Kini menggenang di bawah
Bisa kudengar gemuruhnya melewati selokan gersang di bawah kakiku
Segemuruh hatiku yang kini tak menentu

Malam tlah mulai turunkan tirainya
Waktu jadi berlalu dengan cepat
Semua orang seperti tergesa di petang ini
Justru aku yang terdiam

Hujan tlah turun sejak tadi
Hujan hari ini
Gambaran hujan di hati

Pekanbaru. 7 November 2007. 8.29 pm
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pink Traveler

Kemasi Ranselmu dan Pergilah Melihat Dunia

The Bookly Purple

Trying to be a better reader, while writing reviews in the process.

KRIRIEN

sekadar merapikan kenangan

Andyology Blog

Official page of Laval Andy Alain.

Read Out Loud

Selamat Datang, Jangan Lupa Bawa Peta Nanti Kesasar

Catatan Kosong

Sebuah Panggilan: Menulis

Escanaba Ship

Since March 07, 2015.

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Coretan ku

Hidup sekali, hiduplah yang berarti... :)

%d bloggers like this: