Ulasan: Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam – Triskaidekaman

wp-1471788811881.jpgAku tidak ingat kapan persisnya, jatuh cinta pada aktivitas membaca. Sekarang, yang bisa kukenang hanyalah kilasan kenangan sepenggal majalah bergambar domba hitam yang tersesat di putihnya salju; atau tenda-tenda para pengelana dengan petakan sawah di tepiannya. Entah dari kisah mana. Atau majalah apa.

Seperti yang kukatakan pada postingan sebelumnya, aku ingin kita semua merasakan nikmat membaca. Sekarang, mari bersama menyelami tulisan Henny alias Triskaidekaman yang berjudul Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam.

Kisah ini terkait dengan cerpen C U B I T.

Berbeda dengan tulisan Adit (yang akan kita bahas dalam postingan selanjutnya), Henny tak berusaha mengikuti mode paparan dalam kisah C U B I T. Sedikit pun tidak.

Aku butuh waktu beberapa saat untuk dapat merasakan kisah ini terkait, hal itu bisa dijelaskan karena:

  1. Alasan yang kuutarakan di atas, Henny memberikan nyawa dan rasa yang berbeda; bahkan cenderung bertolak belakang dari kisah aslinya. Saat menulis C U B I T, aku sama sekali tak berusaha memahami tokoh Ibu, dan itu salah satu alasan aku tak menggunakan sudut pandang orang pertama; padahal itu adalah salah satu pov favoritku. Hampir semua kisah yang kutulis menggunakannya. Tidak halnya dengan C U B I T. Saat itu, aku cenderung ingin menjauhi tokoh Ibu. Melihatnya dari luar. Menjelaskannya sebisaku. Memberikannya alasan-alasan agar dia tak terlihat ‘lahir’ terpaksa. Karena kisah sesungguhnya ada pada tokoh si anak. Meski selanjutnya mereka berdua terpilin dalam kisah yang satu.

Henny memberiku pilihan untuk mengenal tokoh Ibu. Yang sejujurnya membuatku asing. Karena bukan seperti ini tokoh Ibu yang kukenal. Ini adalah gambaran yang sangat berbeda. Jadi wajar, jika aku butuh waktu untuk merasakan bahwa kisah ini terkait dan bukan kisah yang sama sekali berbeda.

  1. Meski terdengar klise, aku sangat buuuuruk dalam memilih nama tokoh yang akan kupakai dalam kisah. Maka sebisa mungkin aku menghindarinya. Hampir semua flashfiction yang kutulis tak menyampirkan nama. Namun cerpen ataupun novel lebih sulit, jadi aku memaksa diri melakukannya; meski kerap sembarang comot. Biasanya aku akan memilih nama dari hal-hal yang baru lewat. Novel yang baru kubaca. Film yang baru kutonton. Teman yang baru kukenal. Seseorang yang baru kukenang. Semacam itu.

Namun tidak dengan C U B I T. Seperti alasan no 1, aku tak ingin mengenal tokoh dalam kisah ini; hingga wajar jika tak kuberi nama. Munculnya nama semisal Rangga, Mirat, atau Dedi (yang tentunya kalian tahu berasal dari rahim siapa kan?) membuatku tersipu karena kisah Henny membuatku harus meluaskan dunia anak-ibu di C U B I T yang sejatinya hanya beberapa petak ubin saja menjadi jauh lebih lebar. Sehingga wajar, aku butuh waktu untuk terbiasa.  

  1. Sejak pertama kali mengenal Henny, aku paham benar bahwa diksi akan jadi salah satu senjata terkuatnya. Dia banyak sekali membaca. Dan ingatannya tajam. Sebaliknya, aku adalah pemalas yang miskin pilihan kata. Hanya rasa malu yang membuatku rajin-rajin menyunting kalimat, memastikan tak ada pengulangan kata yang sama dalam beberapa baris. Nada yang serupa. Lelucon yang tak jenaka. Semacamnya.

Henny menyajikan kekayaan diksinya tanpa malu-malu; hanya aku yang membacanya jadi malu. Karena betapa pun banyak cabang yang sedang dititi oleh jari-jemari Henny saat menuliskan kisah ini, mereka semua berujung pada bunga yang sama. Mekar serentak. Gugur serempak. Barisan kata-kata itu yang membuatku merasa asing. Untuk sementara waktu.

  1. Harus kukatakan, saat menulis C U B I T, aku tak butuh waktu lama. Ini adalah kisah yang selesai dalam dua kali pertemuan (jangan tertawa, aku bukan seseorang yang bisa menyelesaikan kisah dalam satu kali jalan). Aku dapat idenya di awal, namun kebingungan untuk menyelesaikan. Sambil jalan aku menuliskannya, hingga sampai di titik aku merasa tak bisa balik. Di sana aku meletakkan jangkar. Berlabuh. Sampai kemudian aku melihat pola yang bisa kubuat. Aku merapikan kisah ini agar awal dan akhirnya bersatu. Demikian.

Henny tampaknya tak begitu. Aku tak tahu pendekatan apa yang dia pakai, namun saat membaca kisah ini, aku membayangkan juntaian tirai dari biji-biji kayu yang kerap dimainkan oleh anak kucing. Ujungnya bergoyang-goyang. Dan tiap jalur punya gelombang sendiri. Meski kemudian saat mencapai akhir, aku tersenyum sendiri saat mendapati simpul yang sama dengan apa yang kugunakan.

Puting. Dan ketenangan (atau keributan?) yang ditimbulkannya. Bahkan hingga kini aku berharap bisa menyaksikan bagaimana Henny menuliskan kisah ini.

Kurasa cukup demikian beberapa alasan tentang kenapa aku butuh waktu.

Selanjutnya, aku ingin membahas tentang kisah ini.

Ini benar-benar sisi yang berbeda. Aku diajak untuk mengenal lebih jauh sosok yang ‘kuciptakan’ tapi dari sudut pandang seorang Henny. Baginya, ini kisah yang layak bagi si Ibu. Pemikirannya. Apa yang melayang-layang dalam rongga berisi spons lembek yang gampang terayun-ayun di atas lehernya. Semacam itu.

Dan ini perkenalan yang ganjil.

Namun mengasyikkan.

Sebagai seseorang yang tak mahir berkomunikasi lisan, menulis memberiku ruang untuk menjadi orang lain. Bukan orang yang berbeda. Hanya orang lain. Bisa saja itu cerminan diriku. Cerminan siapapun. Menyampaikan kehendak. Angan yang terpendam. Hal-hal semacamnya. Lalu saat membaca kisah ini, aku melihat betapa luasnya dunia yang bisa kita buat dengan sekumpulan huruf-huruf dan kertas kosong di depan mata.

Sekiranya kita ingin mencoba.

Tulisan ini menyadarkanku bahwa untuk menjadi seorang penulis, seseorang haruslah menulis.

Bukan berangan-angan untuk menulis.

Namun benar-benar menulis.

Terima kasih sekali lagi Henny, atas kisah ini. Semoga kita dipertemukan untuk dapat berbincang lebih jauh. Mengenai beberapa hal. Tak perlu banyak-banyak. Haha.

Salam.

 

Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s