Ulasan: Ke Laut – Aditia Y

IMG-20150303-WA0005Henny dan Adit adalah dua orang penulis yang kukagumi karena alasan yang sama, dan berbeda.

Sama karena mereka berdua menemukan cara untuk mengisi 24 jam yang dimiliki untuk menulis dengan baik. Mereka sangat produktif. Menepati batas waktu. Menyisihkan kehidupan dalam kehidupan. Dan terlihat bahagia saat melakukannya. Aku iri dari kejauhan. Sekaligus kagum.

Berbeda karena mereka adalah penulis yang kuat dengan caranya sendiri.

Karena kini yang akan kubahas adalah tulisan Adit, maka mari kita sejenak membaca kisah Ke Laut, yang terkait dengan cerpen Terapung.

Kali pertama aku mengenal Adit, seingatku saat membaca tulisannya yang sedang membuat ‘tiruan’ dari Game of Thrones (atau A Song of Ice and Fire?). Kala itu aku sungguh terkesima, karena aku belum pernah membaca novel tersebut, namun merasa tertarik jadinya. Adit adalah penulis deskriptif-naratif yang ulung. Dia sistematis dan efektif. Hampir tak ada kata terbuang. Ataupun berlebihan. Jika dia bukan seorang penulis, aku yakin dia akan jadi editor yang baik.

Namun bukan berarti dia bukan penulis dialog yang handal. Baca saja sendiri, bagaimana dia memutar kata-kata dengan liukan penuh makna. Baca saja kisah-kisahnya, aku jamin kalian jatuh cinta.

Satu hal yang ingin dan harus kusampaikan tentang Adit, dan ini adalah penilaian subjektifku, jadi bisa saja salah.

Dia sangat berbakat dalam meniru.

Aku mengenal diriku, aku tak peduli detail. Saat melihat pemandangan matahari terbenam, aku hanya akan melihat jingga; baru saat melihat foto yang diambil sesudahnya, aku bisa melihat langit yang temaram. Biru yang memberat. Bayangan yang jatuh. Air yang menggeliat. Hal-hal seperti itu. Aku tak bisa melihat sesuatu dengan segera.

Adit, kuyakin mampu melakukannya. Dia bisa menemukan ciri khas pada setiap karya yang dia baca, lalu diam-diam tersenyum; mungkin memikirkan jika dia bisa menulis lebih baik daripada mereka. Karena berikan saja dia waktu, maka dia akan membuat semacam duplikat yang jauh lebih baik. Bukan hanya sekali aku menyaksikanya.

Tapi ya, ini penilaian subjektif.

Tentang kisah ini, soalnya itu yang kurasakan. Bahkan dari dua kalimat pertama, aku bisa membayangkan aku yang menuliskannya. Adit, baru saja menulis kisah, dengan berpura-pura menjadi aku.

Dan itu, membuatku tersanjung.

Kisah Ke Laut ini seharusnya bisa lebih panjang. Karena bagian akhirnya sungguh membuatku tak nyaman. Sekiranya, dia berkenan untuk menulis ulang, aku jamin kisah ini akan lebih baik. Meski mungkin versi aslinya yang membuatnya sulit berkembang, haha. Entahlah.

Saat menulis Terapung, aku sedang bahagia. Namun juga takut. Saat itu aku benar-benar sedang bepergian dengan pesawat terbang, melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas. Lalu tersadar bahwa bisa saja, pesawat yang kutumpangi itu tak mendarat untuk selama-lamanya. Pemikiran itu membuatku gelisah. Dan aku tak suka gelisah. Bagiku, harus ada penjelasan yang masuk akal atas kegelisahan itu.

Maka lahirlah Terapung.

Butuh beberapa minggu sebelum aku akhirnya merapikan naskah yang kutulis tangan itu. Rasa yang kumiliki pun sudah bergeser, karena aku sudah berada di daratan. Maka aku menambahkan kisah Anwar di dalamnya.

Dalam kisah Ke Laut sendiri, aku merasa dekat dengan tokoh ‘aku’. Caranya mengenang Anwar, terasa hangat. Dan aku senang, menyadari itu bisa saja terjadi. Maksudku, rasa yang kutitipkan padanya, bisa disampaikan oleh Adit. Pun tokoh baru yang dihadirkan, semacam penghiburan. Aku terutama sangat terkesan dengan kalimat pendeknya: Aku pesankan, ya?

Kita butuh seseorang yang menawarkan sesuatu, memberi semacam pilihan, dan secara tersirat menyarankan kecondongan pada pilihan tertentu, dengan percaya diri. Karena saat kita sedang bimbang atau gelisah, mereka akan membuat kita kuat. Bahkan sekedar melihat punggungnya dari kejauhan, atau menghidu bau rokok yang dia bakar.

Untuk itu, aku juga berterima kasih kepada Adit, karena mengingatkanku untuk menulis dengan rasa. Bukan sekadar menuntaskan kata-kata.

Kita tidak tahu hati siapa yang tertambat pada tulisan yang kita buat.

Hati siapa yang terikat.

Hati siapa yang tergugat.

aulia

8 thoughts on “Ulasan: Ke Laut – Aditia Y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s