Hari sudah menjelang senja, masih ada sisa satu paket yang belum kuantarkan. Kuteliti alamatnya, memperkirakan apakah aku bisa sampai sebelum Magrib. Bukan apa-apa, aku tak suka mengganggu jika sudah menjelang malam, itu waktu ibadah bagi sebagian orang. Apalagi nama penerimanya tak lengkap, hanya sebaris pesan.

Namun nampaknya aku beruntung karena alamat yang dituju tak begitu jauh, hanya di ujung jalan. Maka kunyalakan motor dan memacunya.

Matahari sudah benar-benar tenggelam saat aku tiba di sana. Sejenak aku berhenti untuk mencocokkan alamatnya.

Rumah yang besar. Pagar yang tinggi mengelilinginya.

Aku mendorong gerbang yang tak terkunci. Halaman luas dengan pohon-pohon besar menyambutku.

prompt2b125

Sunyi.

Kutuntun sepeda motorku, rasanya aneh menyalakannya di halaman rumah sesepi ini. Aku baru hampir mencapai teras ketika lampu-lampu menyala, termasuk yang ada di teras. Bunyinya menderit aneh dengan nyala kuning yang buram.

“Permisi. Ada paket kiriman!” kutekan bel.

Bunyinya menggema dalam senyap senja.

Kutekan sekali lagi.

Terdengar langkah kaki di belakangku.

Seorang kakek renta dengan tubuh bungkuk mendekat. Sepertinya dia habis membersihkan halaman. Kulihat dia meletakkan sapu di tepian pagar teras.

Aku tersenyum, “Selamat sore, maaf, Kek, ada paket.”

Kakek tersebut balas tersenyum, memamerkan dua batang gigi masing-masing di gusi atas dan bawah, aneh sekali rasanya karena pipinya sudah kempot.

Dia menunjuk kursi. Tak bicara apa-apa. Namun dia duduk di kursi satunya.

Aku bingung tetapi menurut. Ikut duduk.

Kakek tersenyum dengan pandangan menyelidik.

Ah, mungkin dia tuli, atau bisu? Atau pikun?

Aku berusaha tak peduli dan mengeluarkan paket kiriman. Tak lupa resi yang harus ditandatangani.

“Saya konfirmasi ya, Kek. Alamatnya…” kubacakan alamat sekali lagi. Kulirik Kakek yang masih saja tersenyum. Nyala lampu yang jatuh di wajahnya membuat parasnya makin janggal.

“Paket ditujukan untuk Janda Pak Amir.” Begitu pesan singkat di depannya.

Kakek masih tersenyum. Pandangannya kosong.

“Kakek…?”

Sebersit kesadaran menyelinap.

“Kakek… Pak Amir?”

Kakek masih tersenyum.

Lalu mengangguk.

 

*****

Kisah ini hanya fiktif belaka. #298 kata. Ditulis untuk Prompt #125 – Rumah di Ujung Jalan. Gambar dari sini. 

Advertisements