Silakan ditonton episode satu di sini:

Sinopsis

Endru dan Steve terbangun dalam keadaan setengah telanjang dalam kamar mandi yang asing. Keduanya tak saling kenal. Sempat saling curiga, kini mereka saling bantu mencari jalan keluar dari kamar mandi yang terkunci itu. Di tengah kebingungan, terdengar gema tawa pria yang menakutkan. Belum selesai dengan kejutan itu, terdengar suara dari balik pintu dan perlahan… pintu yang semula terkunci itu mengayun terbuka.

Apa yang menanti mereka di balik sana?

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis #OnlyGodKnows yang diselenggarakan oleh Storial.co dan Cameo Project.


“AAAAAAKKKK…!!!!!”

Steve dan Endru sampai berpelukan saking kagetnya, lalu sontak keduanya memisah dan masing-masing mengambil pisau dan botol minuman. Di depan mereka, tepat di seberang ruangan kedua perempuan itu juga berteriak tak kalah kencang, mengacungkan senjata yang tak kalah menakutkan.

“Diam di tempat atau gua timpuk pakai sepatu!!” perempuan pertama tampak kalut, menutupi tubuhnya yang hanya memakai celana ketat dan beha seadanya.

“Itu celana gua!” Endru spontan berteriak. Menunjuk-nunjuk. “Dan itu baju gua!!” kali ini ke arah perempuan lebih kurus yang hampir terkencing di sudut ruangan, menutupi tubuhnya yang setengah telanjang dari pinggang.

Endru masih menunjuk-nunjuk sampai dia menyadari Steve sedang menggamitnya keras.

“Apaan sih, lu?” tanyanya gusar.

Steve tercekat, tampak tak mampu berkata-kata. Ketika akhirnya suaranya keluar, itu hanya bisikan di telinga Endru. “Lu liat nggak tampang mereka?”

Endru mengernyit. Menatap nanar pada kedua perempuan dengan rambut kusut masai itu. Keduanya menatap balik. Kini keempatnya nanar memandangi satu sama lain.

Hening.

Pisau di tangan Steve terjatuh, memecah kesunyian.

Endru menelan ludah.

“AAAAAAAKKK…!!!!” sepatu melayang dari tangan perempuan gemuk yang berwajah mirip Endru itu. Mendarat tepat di wajah Endru.

“Woy!” Endru protes.

Kedua perempuan itu masih histeris berteriak, berkumpul di sudut bathtub.

“Kalian berdua bisa tenang, nggak?” Steve berteriak kencang, meningkahi jeritan. Dia melangkah pelan, menuju pintu. Tangannya terangkat memberi isyarat agar kedua perempuan itu tenang.

Keduanya mulai diam. Sesenggukan.

Steve melongok ke ruangan sebelah. Mengernyit.

Ruangan yang sama persis dengan kamar mandi yang dia dan Endru tempati. Seperti cermin. Bedanya tak ada botol minuman berserakan di lantai.

“Siapa kalian?” Steve versi wanita membuka suara. “Apa yang kalian lakukan pada kami?”

Endru ikut mengintip di belakang Steve. Bergumam pelan. “Anjrit. Dia mirip banget sama lu.”

Steve berpaling tak senang, meski tak menyanggah fakta tersebut. Lalu berucap pada kedua perempuan tersebut. “Justru gua yang mau tanya, siapa kalian?”

“Dan balikin baju gua,” Endru menimpali.

Endru versi wanita mengangkat sepatunya yang satu. “Enak aja! Ntar gua pakai apa?”

Tiba-tiba kembali terdengar tawa menakutkan yang sama. Lalu hilang seperti pertama kali terdengar.

Keempatnya saling pandang. Mulai menyadari keadaan masing-masing.

“Kalian, juga nggak ingat apa-apa? Tentang bagaimana kalian bisa sampai berada dalam kamar mandi ini?” Steve versi wanita bertanya.

Endru dan Steve menggeleng.

Sorry. Kalau kita berdua tadi bikin kalian kaget.” Endru menyodorkan tangan. “Gua Endru.”

Endru versi wanita tak membalas jabat tangan tersebut. Hanya berbisik. “Gue Andrea.” Dia lalu bangkit berdiri dari dalam bathtub. “Dan dia Stephania.”

Sontak Endru dan Steve tergelak.

Andrea dan Stephania tampak tersinggung. “Kenapa lu berdua ketawa?”

Sorry-sorry. Gua Steve.” Steve masih menahan tawa. “Ini semua lelucon, kan? Andrea? Stephania?”

“Nggak ada yang lucu!” Andrea balas berteriak. “Lu pikir gue suka berada di sini? Nggak pakai baju layak. Dipermalukan di depan dua cowok yang entah siapa.”

Okay-okay. Sorry.” Endru mengangkat tangan meminta maaf. “Andrea dan Stephania, siapa pun kalian, kita berempat sekarang harus mencari cara untuk bisa keluar dari sini.”

“Tapi nggak ada pintu kecuali yang menuju ruang kalian.” Stephania menukas.

“Kita tadi juga sudah ngecek lewat ventilasi, nggak kelihatan apa-apa,” ujar Steve.

Di saat mereka mulai memutar pandangan, mencari-cari celah yang mungkin mereka lewatkan, suara tawa menakutkan itu kembali terdengar. Namun kali ini terdengar seseorang bicara.

“Selamat datang di kamar Gemini. Masing-masing kamar terdapat bom yang akan aktif hitungan mundurnya setelah saya selesai bicara. Kalian punya waktu lima menit untuk memutuskan, siapa yang ada di kamar mana, dengan catatan, satu kamar hanya bisa terisi dua orang. Jika selesai memutuskan, berkumpul di dalam kamar yang kalian pilih, tutup pintu, berdiri di depan cermin dan jelaskan alasan kalian memilih pasangan. Bom tak akan meledak untuk pasangan dengan jawaban yang benar. Selamat memilih.” Pengumuman itu berakhir dengan tawa yang panjang.

Lalu terdengar bunyi BIP diiringi dengan munculnya angka digital memenuhi layar cermin di atas wastafel.

Angka tersebut berkedip.

“Hitungan mundur!” Andrea berteriak panik.

“Apa-apaan ini??!!” Steve berteriak keras pada lubang ventilasi, berharap mendapat jawaban.

“Tenang-tenang. Kalian dengar tadi apa yang pria itu katakan? Ada bom di kamar mandi ini!” Endru mengingatkan.

“GUE JUGA TAHU TOLOL!” pekik Stephania. “Oh, Tuhan. Apa yang harus gue lakuin? Apa yang harus kita lakukan?!”

Mereka saling pandang dan menatap angka di cermin.

Empat menit.

Okay, tampaknya kita memang harus memilih pasangan,” Endru berujar pelan.

Sontak ketiga yang lainnya mundur teratur.

“Lu pikir gua juga bakalan mau milih kalian?” Endru tampak tersinggung. Berpaling ke arah Steve. “Lu pilih sekamar dengan siapa?”

“Gua ingin menegaskan bahwa gua bukan homo.”

Stephania berjengit di dalam bathtub. “Gue nggak mau sekamar dengan salah satu dari kalian yang laki-laki, apalagi lu yang mukanya mirip gue.”

Steve balas menunjuk. “Lu pikir gue mau sama lu?!” dia tampak ingin mengucapkan kata kasar namun teringat bahwa mereka berbagi paras yang sama.

“Gue nggak mau sama lu, Endru, karena lu sedari tadi niat banget ngambil pakaian gue,” Andrea menggeleng pelan di sudut.

“Kalian nggak dengar apa yang tadi dibilang?!” Endru memukul daun pintu. “Seandainya kalian memilih, harus menjelaskan alasannya? Bom baru tidak meledak jika alasan yang lu kasih itu benar! Jadi stop saling tunjuk dan saling menolak untuk dipasangkan!”

Teriakan beringas Endru itu tampak menghantamkan kenyataan yang sedang mereka hadapi dengan lebih nyata. Terengah-engah, masing-masing berdiam diri dengan degup jantung yang semakin laju, memikirkan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.

Satu menit.

Kali ini terdengar tambahan suara menghitung mundur otomatis.

Lima sembilan

Lima delapan

Endru menarik napas.

Steve mengerjap, tampak berpikir keras.

Lima empat

Andrea meremas sepatunya.

Lima tiga

Stephania meringkuk di dalam bathtub.

Sementara cermin masih menampilkan angka digital yang berkedip-kedip.

– end of episode 2 –


Telah ditulis di laman Storial.Co pada tanggal 13 Agustus 2016. Tulisan ini dipilih/menang sebagai versi yang akan dijadikan lanjutan kisah #OnlyGodKnows series. Yay!

Untuk membaca versi asli silakan berkunjung di sini

Advertisements