Selepas Kau Pergi

Hujan telah lama berhenti namun sisanya masih setia menetes dari pinggiran atap dan kabel-kabel lampu kelap-kelip yang menggelantung di sepanjang sisi jendela tinggi di sisi kanan kiri toko. Tinggal lampu dapur yang belum dimatikan ketika bel pintu berbunyi disusul bunyi pintu mengayun membuka.

“Maaf, kita sudah tutup.”

20181004_134007_0001.png

Advertisements

a void

I woke up feeling strange.

This is kind of the day that I know I have so many things to do but I couldn’t figure it out what and where do I need to begin. So I fell back to sleep.

Marathon meeting yesterday went well, despite minor problem with my mic [doesn’t work when I had conference call!, yea it’s minor, lol], everything went quite well, I guess. The weather was fine, drizzling and raining about an hour last night, enough to send the heat away.

It is this month last year, that I started this journey. Not particularly this date, I think it’s earlier. When I finally hit the SEND button.

And it does send me here.

Putri and Athifa still in Baubau, they said they are awoke since 4 (or 3) because electricity went out and somehow it woke them up. I can sense their boredom there, hehehe. Hang tough, dear! 🙂

My playlist decided to give me Kangen by Dewa (sung by Once though). Life is indeed weird.

Anyway, I think I am in the mood to write something or anything else so lets see if this week will bring me to there.

Bye for now. Take care. Sketch

Ulasan: Enigma Gending Aksara

300b016a25c711e3801622000a1fb91e_7Aku mengenalnya di grup LINE mantan pengguna Multiply yang entah kenapa seperti berbagi rasa yang sama di sana. Rasa kangen terhadap Multiply. Salah satu media sosial yang mengantarkanku untuk ‘berkelana’, mengenal beberapa orang yang berikutnya menyentuh sisi-sisi kehidupanku dan mereka tak pernah sama lagi.

Aku tak ingat mengenalnya di Multiply. Jadi, pertemuan di grup tersebut adalah kenanganku yang pertama tentangnya.

Sebagai grup yang dihuni orang yang senang membaca (dan menulis), sulit untuk terkesan adalah ciri masing-masing; aroma kompetisi sangat erat di antara kami. Satu kisah akan ditimpali dengan kisah lain. Satu pendapat akan dijawab dengan teori yang baru. Satu guyon akan berakhir pada perdebatan sengit. Meski sudah saling kenal, setiap pembicara akan menghabiskan sebagian besar kalimatnya untuk menggiring pembicaraan pada dirinya sendiri.

This is my story. With you all revolving around it.

Not with this particular guy.

He struck me with his nonsense attitude. Play along with all jokes but doesn’t seem to mind it more than a couple of minutes.

Then we talk.

*

Lalu kami berteman dan postingan ini selesai, haha.

Entah kenapa mata ini pedas sekali (ini jam 5.38 pagi) dan rasanya pasti enak sekali jika dibawa tidur. Aku sedang mendengarkan petikan gitar Tohpati, yang sepertinya memudahkanku untuk menulis. Seperti halnya kemarin. Semoga hari ini juga sama.

Baiklah, kembali ke persoalan. Tulisan ini didedikasikan untuk Riswan, seseorang yang punya banyak alias bahkan aku sempat tak yakin siapa nama sebenarnya sampai beberapa waktu yang lalu. Kita akan membahas tulisannya.

Koreksi: beberapa tulisannya.

Karena satu tulisan saja tidak akan pernah cukup, dan itu adalah alasanku menamai postingan ini enigma.

Bukan berarti tulisan Riswan akan terasa seperti candu; sebaliknya, bisa saja akan mengusirmu pada kali pertama.

Riswan tak menulis untuk orang lain.

As written above, he gives no particular interest to impress anybody; dan itu tergambar di tulisannya. Meski jika kita sudah beberapa kali membaca, akan ditemukan pola di dalam tulisan Riswan. Ini pendapatku, bisa saja kita berbeda.

  1. Rindu

Riswan adalah perindu sejati. Baginya, itu adalah rokok yang dia isap setiap hari. Dia hidup dengannya. Mati karenanya. Di beberapa tulisannya, dia terlihat sangat rindu. Di beberapa yang lain, dia berusaha membuang rasa tersebut. Aku akan memberikan contoh, misal pada Angin, [di]lupa[kan], atau Biru, Hijau, Jingga.

Kerinduan membuat seseorang bertahan. Tapi tidak bagi Riswan, setelah mengenalnya beberapa tahun terakhir, lahirnya tulisan Riswan menandakan dia sedang tak bahagia (menurutku) dan sebagai teman, aku beberapa kali menanyakan perihal ini.

Bagi Riswan, semua hal layak untuk dirindukan.

Hatinya terlalu luas untuk menyimpan kenangan.

Waktunya yang tak cukup untuk menghampar bahagia dan menyampir getir.

  1. Kebohongan

Semula aku akan menempatkan poin ini di nomor terakhir, namun kupikir ini harusnya bersambung pada poin pertama. Kebohongan yang kumaksud adalah jawaban-jawaban yang Riswan berikan pada tiap kisahnya. Tak seperti aku yang meluahkan isi kepala di atas kertas (terkadang) untuk menyampaikan rasa yang sebenarnya ada; Riswan sebenarnya juga demikian, namun dia tak akan pernah menyampaikannya tanpa balutan. Selapis. Sepuluh lapis. Terkadang semua hanya belitan dusta yang membuat pembaca bertanya-tanya.

Ada apa?

Seperti biasa, Riswan akan memberikan jawaban terbaiknya.

Kebohongan.  

  1. A better man

Setidaknya aku sedang membuka delapan tab khusus tulisan Riswan, memastikan poin ini tak salah. Silakan cek di:

Kometas: seorang laki-laki berbaju dan bercelana hitam lusuh…

Segelas Besar Teh Dingin: seorang tamu kedai baru datang, laki-laki berbaju dan bercelana hitam

Naharabul Anggiteg: namanya Warane. Pemandu yang menemaniku menjelajah kawasan Teluk Cendrawasih.

Benang Merah yang Mengikat Kami: ... di jalan yang semakin menanjak, saya bertemu dengan seorang ibu tua pengangkut kayu bakar…

Waskita Terakhir: dia seorang tabib beralis kepak elang, tubuhnya lumpuh sebagian, karena cintanya yang tak direstui alam raya.

Sebotol Anggur dan Dua Gelas Berkaki: … tepat mengarah ke jantungmu. Jantung keparat yang telah merenggut satu-satunya hal berharga yang kumiliki.

Serta di beberapa kisah lain, silakan dibaca, dia tak sering mengupdate blognya yang sunyi ini.

Riswan mengenang seseorang di masa lalu, sekarang, dan nanti sebagai seseorang yang lebih baik. Baginya, itu seperti memberi harapan (atau penegasan kenyataan?) bahwa dirinya bisa mencapai titik itu suatu saat: menjadi lebih baik.

Sebagai manusia, anak, pasangan, teman, apapun.

Sebagai penulis, jejak seperti ini adalah kejujuran yang jarang. Mungkin, karena Riswan seringkali tak menulis untuk orang lain, apapun yang dia bikin, akan menggambarkan hasratnya yang paling dalam: laki-laki (manusia) yang lebih baik.

  1. Keluarga

Seperti yang kusampaikan di atas, terlepas dari keegoisan masing-masing anggota grup, Riswan adalah orang yang paling mendengarkan. Dia ada saat kita bercerita. Menimpali dengan tak berlebihan. Bisa mengingatnya kembali saat kita mengoreknya.

Saat itu, kupikir itu adalah salah satu kelebihannya yang luar biasa. Tak banyak orang yang bisa melakukan hal itu, dan dia seharusnya jadi anggota keluarga bagi siapapun.

Sampai aku menyadari bahwa tidak demikian adanya.

Riswan melepaskan ikatan satu demi satu sampai luruh benang yang menyelimuti jiwanya.

Dan itu tergambar di tulisannya: perpisahan, kematian, pertemuan yang tak jadi, kasih tak sampai, racauan.

Riswan punya batu besar yang harus dia loncati untuk menyeberang ke sisi yang dia inginkan.

Atau keluarganya inginkan.

Pertanyaannya, akankah dia melakukannya?

Berdasarkan tulisan-tulisannya, menurutku tidak.

Tapi aku bisa saja salah. Dan jika itu terjadi, maka kupastikan poin ini akan segera hilang di tulisan Riswan. Kita tunggu saja.

*

Terlepas dari poin-poin yang telah kusampaikan, aku ingin mengomentari gaya penulisan Riswan di beberapa cerpen (dan puisi?), meski batasnya samar antara postingan blog perjalanan yang kerap diselipkan dengan kisah-kisah (nyata atau reka?).

Riswan jelas penulis yang berbakat; aku kenal seseorang yang menulis dengan kerja keras, menyusun kalimat demi kalimat, menyuntingnya satu demi satu, memastikan dia sedang tak membuang banyak energi (dirinya dan pembaca) jika nanti tulisan itu terbit. Riswan tak demikian, kebanyakan tulisannya adalah tulisan satu kali duduk alias langsung jadi. Dia tak menyuntingnya. Tak banyak memperbaiki.

Titik terakhir. Selamat tinggal.

Bagiku, penulis seperti ini punya beban mental yang tinggi karena kebosanan mereka cepat sekali datang. Seandainya Riswan bisa mengatasi masalah kebosanannya, dia akan jadi salah satu penulis yang baik. Jauh melebihi penulis kisah-kisah rekaan di bangku sekolahan. Ataupun penyair-penyair masa kini yang memanggil susunan kalimat rata kanan kirinya sebagai puisi.

Seharusnya Riswan tahu diri.

Lewat tulisan ini, aku meminta Riswan untuk ‘melukai’ hatinya lebih sering. Dan menulis lebih banyak lagi.

Aku (dan pembaca lainnya) layak mendapat tulisan yang baik.

Demikian.

Selamat pagi.

.

.

Hujan sedang turun di Jayapura. 

Rabu, dan titik air jatuh dari kerumunan atas angin kelabu. 

Ulasan: Ke Laut – Aditia Y

IMG-20150303-WA0005Henny dan Adit adalah dua orang penulis yang kukagumi karena alasan yang sama, dan berbeda.

Sama karena mereka berdua menemukan cara untuk mengisi 24 jam yang dimiliki untuk menulis dengan baik. Mereka sangat produktif. Menepati batas waktu. Menyisihkan kehidupan dalam kehidupan. Dan terlihat bahagia saat melakukannya. Aku iri dari kejauhan. Sekaligus kagum.

Berbeda karena mereka adalah penulis yang kuat dengan caranya sendiri.

Karena kini yang akan kubahas adalah tulisan Adit, maka mari kita sejenak membaca kisah Ke Laut, yang terkait dengan cerpen Terapung.

Kali pertama aku mengenal Adit, seingatku saat membaca tulisannya yang sedang membuat ‘tiruan’ dari Game of Thrones (atau A Song of Ice and Fire?). Kala itu aku sungguh terkesima, karena aku belum pernah membaca novel tersebut, namun merasa tertarik jadinya. Adit adalah penulis deskriptif-naratif yang ulung. Dia sistematis dan efektif. Hampir tak ada kata terbuang. Ataupun berlebihan. Jika dia bukan seorang penulis, aku yakin dia akan jadi editor yang baik.

Namun bukan berarti dia bukan penulis dialog yang handal. Baca saja sendiri, bagaimana dia memutar kata-kata dengan liukan penuh makna. Baca saja kisah-kisahnya, aku jamin kalian jatuh cinta.

Satu hal yang ingin dan harus kusampaikan tentang Adit, dan ini adalah penilaian subjektifku, jadi bisa saja salah.

Dia sangat berbakat dalam meniru.

Aku mengenal diriku, aku tak peduli detail. Saat melihat pemandangan matahari terbenam, aku hanya akan melihat jingga; baru saat melihat foto yang diambil sesudahnya, aku bisa melihat langit yang temaram. Biru yang memberat. Bayangan yang jatuh. Air yang menggeliat. Hal-hal seperti itu. Aku tak bisa melihat sesuatu dengan segera.

Adit, kuyakin mampu melakukannya. Dia bisa menemukan ciri khas pada setiap karya yang dia baca, lalu diam-diam tersenyum; mungkin memikirkan jika dia bisa menulis lebih baik daripada mereka. Karena berikan saja dia waktu, maka dia akan membuat semacam duplikat yang jauh lebih baik. Bukan hanya sekali aku menyaksikanya.

Tapi ya, ini penilaian subjektif.

Tentang kisah ini, soalnya itu yang kurasakan. Bahkan dari dua kalimat pertama, aku bisa membayangkan aku yang menuliskannya. Adit, baru saja menulis kisah, dengan berpura-pura menjadi aku.

Dan itu, membuatku tersanjung.

Kisah Ke Laut ini seharusnya bisa lebih panjang. Karena bagian akhirnya sungguh membuatku tak nyaman. Sekiranya, dia berkenan untuk menulis ulang, aku jamin kisah ini akan lebih baik. Meski mungkin versi aslinya yang membuatnya sulit berkembang, haha. Entahlah.

Saat menulis Terapung, aku sedang bahagia. Namun juga takut. Saat itu aku benar-benar sedang bepergian dengan pesawat terbang, melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas. Lalu tersadar bahwa bisa saja, pesawat yang kutumpangi itu tak mendarat untuk selama-lamanya. Pemikiran itu membuatku gelisah. Dan aku tak suka gelisah. Bagiku, harus ada penjelasan yang masuk akal atas kegelisahan itu.

Maka lahirlah Terapung.

Butuh beberapa minggu sebelum aku akhirnya merapikan naskah yang kutulis tangan itu. Rasa yang kumiliki pun sudah bergeser, karena aku sudah berada di daratan. Maka aku menambahkan kisah Anwar di dalamnya.

Dalam kisah Ke Laut sendiri, aku merasa dekat dengan tokoh ‘aku’. Caranya mengenang Anwar, terasa hangat. Dan aku senang, menyadari itu bisa saja terjadi. Maksudku, rasa yang kutitipkan padanya, bisa disampaikan oleh Adit. Pun tokoh baru yang dihadirkan, semacam penghiburan. Aku terutama sangat terkesan dengan kalimat pendeknya: Aku pesankan, ya?

Kita butuh seseorang yang menawarkan sesuatu, memberi semacam pilihan, dan secara tersirat menyarankan kecondongan pada pilihan tertentu, dengan percaya diri. Karena saat kita sedang bimbang atau gelisah, mereka akan membuat kita kuat. Bahkan sekedar melihat punggungnya dari kejauhan, atau menghidu bau rokok yang dia bakar.

Untuk itu, aku juga berterima kasih kepada Adit, karena mengingatkanku untuk menulis dengan rasa. Bukan sekadar menuntaskan kata-kata.

Kita tidak tahu hati siapa yang tertambat pada tulisan yang kita buat.

Hati siapa yang terikat.

Hati siapa yang tergugat.

aulia

Ulasan: Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam – Triskaidekaman

wp-1471788811881.jpgAku tidak ingat kapan persisnya, jatuh cinta pada aktivitas membaca. Sekarang, yang bisa kukenang hanyalah kilasan kenangan sepenggal majalah bergambar domba hitam yang tersesat di putihnya salju; atau tenda-tenda para pengelana dengan petakan sawah di tepiannya. Entah dari kisah mana. Atau majalah apa.

Seperti yang kukatakan pada postingan sebelumnya, aku ingin kita semua merasakan nikmat membaca. Sekarang, mari bersama menyelami tulisan Henny alias Triskaidekaman yang berjudul Lima Cara Meramaikan Kembali Bayi yang Terdiam.

Kisah ini terkait dengan cerpen C U B I T.

Berbeda dengan tulisan Adit (yang akan kita bahas dalam postingan selanjutnya), Henny tak berusaha mengikuti mode paparan dalam kisah C U B I T. Sedikit pun tidak.

Aku butuh waktu beberapa saat untuk dapat merasakan kisah ini terkait, hal itu bisa dijelaskan karena:

  1. Alasan yang kuutarakan di atas, Henny memberikan nyawa dan rasa yang berbeda; bahkan cenderung bertolak belakang dari kisah aslinya. Saat menulis C U B I T, aku sama sekali tak berusaha memahami tokoh Ibu, dan itu salah satu alasan aku tak menggunakan sudut pandang orang pertama; padahal itu adalah salah satu pov favoritku. Hampir semua kisah yang kutulis menggunakannya. Tidak halnya dengan C U B I T. Saat itu, aku cenderung ingin menjauhi tokoh Ibu. Melihatnya dari luar. Menjelaskannya sebisaku. Memberikannya alasan-alasan agar dia tak terlihat ‘lahir’ terpaksa. Karena kisah sesungguhnya ada pada tokoh si anak. Meski selanjutnya mereka berdua terpilin dalam kisah yang satu.

Henny memberiku pilihan untuk mengenal tokoh Ibu. Yang sejujurnya membuatku asing. Karena bukan seperti ini tokoh Ibu yang kukenal. Ini adalah gambaran yang sangat berbeda. Jadi wajar, jika aku butuh waktu untuk merasakan bahwa kisah ini terkait dan bukan kisah yang sama sekali berbeda.

  1. Meski terdengar klise, aku sangat buuuuruk dalam memilih nama tokoh yang akan kupakai dalam kisah. Maka sebisa mungkin aku menghindarinya. Hampir semua flashfiction yang kutulis tak menyampirkan nama. Namun cerpen ataupun novel lebih sulit, jadi aku memaksa diri melakukannya; meski kerap sembarang comot. Biasanya aku akan memilih nama dari hal-hal yang baru lewat. Novel yang baru kubaca. Film yang baru kutonton. Teman yang baru kukenal. Seseorang yang baru kukenang. Semacam itu.

Namun tidak dengan C U B I T. Seperti alasan no 1, aku tak ingin mengenal tokoh dalam kisah ini; hingga wajar jika tak kuberi nama. Munculnya nama semisal Rangga, Mirat, atau Dedi (yang tentunya kalian tahu berasal dari rahim siapa kan?) membuatku tersipu karena kisah Henny membuatku harus meluaskan dunia anak-ibu di C U B I T yang sejatinya hanya beberapa petak ubin saja menjadi jauh lebih lebar. Sehingga wajar, aku butuh waktu untuk terbiasa.  

  1. Sejak pertama kali mengenal Henny, aku paham benar bahwa diksi akan jadi salah satu senjata terkuatnya. Dia banyak sekali membaca. Dan ingatannya tajam. Sebaliknya, aku adalah pemalas yang miskin pilihan kata. Hanya rasa malu yang membuatku rajin-rajin menyunting kalimat, memastikan tak ada pengulangan kata yang sama dalam beberapa baris. Nada yang serupa. Lelucon yang tak jenaka. Semacamnya.

Henny menyajikan kekayaan diksinya tanpa malu-malu; hanya aku yang membacanya jadi malu. Karena betapa pun banyak cabang yang sedang dititi oleh jari-jemari Henny saat menuliskan kisah ini, mereka semua berujung pada bunga yang sama. Mekar serentak. Gugur serempak. Barisan kata-kata itu yang membuatku merasa asing. Untuk sementara waktu.

  1. Harus kukatakan, saat menulis C U B I T, aku tak butuh waktu lama. Ini adalah kisah yang selesai dalam dua kali pertemuan (jangan tertawa, aku bukan seseorang yang bisa menyelesaikan kisah dalam satu kali jalan). Aku dapat idenya di awal, namun kebingungan untuk menyelesaikan. Sambil jalan aku menuliskannya, hingga sampai di titik aku merasa tak bisa balik. Di sana aku meletakkan jangkar. Berlabuh. Sampai kemudian aku melihat pola yang bisa kubuat. Aku merapikan kisah ini agar awal dan akhirnya bersatu. Demikian.

Henny tampaknya tak begitu. Aku tak tahu pendekatan apa yang dia pakai, namun saat membaca kisah ini, aku membayangkan juntaian tirai dari biji-biji kayu yang kerap dimainkan oleh anak kucing. Ujungnya bergoyang-goyang. Dan tiap jalur punya gelombang sendiri. Meski kemudian saat mencapai akhir, aku tersenyum sendiri saat mendapati simpul yang sama dengan apa yang kugunakan.

Puting. Dan ketenangan (atau keributan?) yang ditimbulkannya. Bahkan hingga kini aku berharap bisa menyaksikan bagaimana Henny menuliskan kisah ini.

Kurasa cukup demikian beberapa alasan tentang kenapa aku butuh waktu.

Selanjutnya, aku ingin membahas tentang kisah ini.

Ini benar-benar sisi yang berbeda. Aku diajak untuk mengenal lebih jauh sosok yang ‘kuciptakan’ tapi dari sudut pandang seorang Henny. Baginya, ini kisah yang layak bagi si Ibu. Pemikirannya. Apa yang melayang-layang dalam rongga berisi spons lembek yang gampang terayun-ayun di atas lehernya. Semacam itu.

Dan ini perkenalan yang ganjil.

Namun mengasyikkan.

Sebagai seseorang yang tak mahir berkomunikasi lisan, menulis memberiku ruang untuk menjadi orang lain. Bukan orang yang berbeda. Hanya orang lain. Bisa saja itu cerminan diriku. Cerminan siapapun. Menyampaikan kehendak. Angan yang terpendam. Hal-hal semacamnya. Lalu saat membaca kisah ini, aku melihat betapa luasnya dunia yang bisa kita buat dengan sekumpulan huruf-huruf dan kertas kosong di depan mata.

Sekiranya kita ingin mencoba.

Tulisan ini menyadarkanku bahwa untuk menjadi seorang penulis, seseorang haruslah menulis.

Bukan berangan-angan untuk menulis.

Namun benar-benar menulis.

Terima kasih sekali lagi Henny, atas kisah ini. Semoga kita dipertemukan untuk dapat berbincang lebih jauh. Mengenai beberapa hal. Tak perlu banyak-banyak. Haha.

Salam.

 

Aulia

Giveaway!

Hai, selamat pagi.

Memasuki usia 30 tahun, aku berkeinginan untuk menulis lebih serius. Aku senang membaca tulisan yang bagus dan aku berharap kita semua dapat merasakan hal yang sama.

Kesenangan membaca.

Yang hanya dapat dicapai dengan terbentuknya cerita yang bagus.

Karena tulisan yang buruk hanya akan bikin sakit kepala.

Sebagai orang yang senang menulis, tulisanku jauh dari sempurna. Itu fakta.

Nah, sebagai upaya perbaikan tulisanku (haha), aku mengajak kita semua untuk menulis bersama. Dengan bingkisan buku di akhir periode. Hitung-hitung hadiah dariku atas bertambahnya (berkurang?) usia, aku akan memberikan tiga buku (masing-masing satu) pada tiga orang penulis terbaik (versiku). Buku yang akan kuberikan:

  1. THE CURIOUS INCIDENT OF THE DOG IN THE NIGHT-TIME – MARK HADDON
  2. THE DARK TOWER – THE GUNSLINGER – STEPHEN KING
  3. NORWEGIAN WOOD – HARUKI MURAKAMI

Semuanya versi bahasa Inggris.

Kalian tinggal menulis satu kisah (bisa sekuel ataupun prekuel) dari tiga kisah yang pernah kutulis di Storial. Yakni:

  1. CUBIT or here
  2. TERAPUNG or here
  3. BONESTOWN or here

Kuberi dua link untuk yang tidak punya akun Storial.

Atau jika kalian ingin meneruskan kisah yang lain dari laman Storial-ku, silakan saja, asal cantumkan tautan dan kisah aslinya, ya, biar kita semua tahu kisah yang dimaksud. Kapan kita bisa mulai?

HARI INI.

Kapan selesainya?

Hmm…

Bagaimana jika 1 bulan dari sekarang? Okay.

12 Juni ya.

Oh, ya. Tulisan bisa ditulis di mana saja, selama masih bisa terlacak di dunia maya. Bisa bikin akun di Storial, atau lewat blog. Silakan saja mention saya di akun Twitter @harunmalaia jika sudah selesai ya.

Selamat menulis.

*ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini, jika ada informasi yang kurang, jangan sungkan untuk ditanyakan!